TAMBOLAKA, MENARASUMBA.COM – Sebuah peristiwa tragis mengguncang dunia maya di pagi buta, 21 Januari 2026 lalu.
Kabar heboh memperlihatkan tubuh tergeletak pada pinggiran ruas jalan nasional yang melintas di Desa Tema Tana, Kecamatan Wewewa Timur, Kabupaten Sumba Barat Daya.
Korban yang kemudian diketahui adalah Damaris Ronga Milla Mesa, warga Kampung Lete Dimu, Desa Dede Pada, Kecamatan Wewewa Timur, SBD.
Ketika diunggah di media sosial korban masih bernyawa meski sudah sekarat karena diduga tergeletak di situ sejak dinihari.
Sekian lama waktu berlalu, tim media ini coba menguak misteri tersebut dari kisah mereka yang berada dalam rangkaian peristiwa itu.

Kami coba kisahkan satu per satu dalam tulisan bersambung, diawali dari malam naas itu.
Telepon dari Nomor Baru
Felicitas, warga Wee Maroto, Desa Nyura Lele, Kecamatan Wewewa Timur adalah salah satu dari sejumlah narasumber yang menuturkan “kejanggalan” atas kematian Damaris.
Kakak almarhumah Mama Alvin (panggilan sehari korban) ini berkisah tentang panggilan telepon dari sebuah nomor baru pada Rabu (21/01/2026) dini hari itu.
Waktu menunjukkan pukul 02.34 WITA saat handphone Felicitas terus berdering ditelepon oleh nomor asing yang tidak ada dalam daftar kontak.
“Saya terima telepon itu karena pikir Ibu yang sakit lalu saya dikontak,” kisahnya kepada awak media, Sabtu (21/03/2026).
Ternyata yang menelepon adalah Agustina Lende yang biasa dipanggil Mama Nona, istri dari kakak suami korban.
Begitu tersambung, suara perempuan dari seberang langsung bertanya.
“Ini dengan Tante Ina kan, dan saya jawab, oh iya saya sendiri kenapa,” sebut Felicitas mengisahkan percakapan telepon itu.
Agustina Lende (penelepon) lalu menanyakan apakah korban (Mama Alvin) ada di situ.
Felicitas kemudian bertanya apa yang terjadi, apakah ada keributan sehingga Mama Alvin menghilang.
“Ia menjawab tidak ada masalah apa-apa, lalu saya bilang kenapa tiba-tiba hilang,” tutur Felicitas lagi.
Agustina Lende lalu menceritakan bahwa ia dan Mama Alvin sedang menggoreng kopi untuk persiapan kedatangan jenazah mertua laki-laki mereka.
Jenazah sang mertua direncanakan tiba dari Waingapu, Sumba Timur pada keesokan siang (21/01/2026).
Menurut Felicitas, sesuai penjelasan Agustina, saat itu sudah pukul dua dinihari ketika Mama Alvin (korban) tiba-tiba menghilang.
“Dalam keterangannya saat menelepon, Agustina menceritakan bahwa ia sempat mencari keberadaan Mama Alvin setelah diketahui menghilang,” bebernya.
Disembunyikan Orang Mati
Agustina menceritakan kepada Felicitas bahwa ia sempat mencari Mama Alvin di kolong dipan dalam kamar tidur, dan menelusuri ruang tamu yang telah didekorasi untuk persemayaman jenazah mertuanya.
Tidak temukan Mama Alvin, pencarian diteruskan di sekeliling rumah hingga semak-semak di belakang yang kemudian tidak dilanjutkan karena suasana hujan angin.
Saat itu pula keluarga suami korban menelepon dan meminta bantuan pendoa (tim doa).
“Tim doanya bilang, tolong bantu saya, saya tidak mampu karena saya doa sendiri. Harus ada teman yang bantu saya mendukung dalam doa,” kata Felicitas menirukan ucapan Agustina Lende dalam percakapan telepon.
Dalam percakapan telepon itu Agustina menyebut bahwa tim doa mengatakan jika Mama Alvin disembunyikan oleh orang mati.
Menurut Felicitas, sebelum mengakhiri pembicaraan Agustina memintanya untuk mencarikan pendoa (tim doa) untuk ikut membantu.
“Kalau ada keluarga atau ada yang kakak kenal, yang tahu doa supaya kita sama-sama dukung dalam doa,” katanya menirukan permintaan Agustina.
Setelah itu percakapan telepon keduanya berakhir. ( TIM/MS )






















