BA’A, MENARASUMBA.COM – Nasib malang dialami Novi (25) warga Desa Oenggaut, Kecamatan Rote Barat, Kabupaten Rote Ndao.
Ibu muda beranak satu ini dianiaya ayah kandung dan sejumlah kerabatnya saat ia berada di rumah mertuanya di Desa Oeseli, Kecamatan Rote Barat Daya, Senin (22/04/2024) pagi.
Fret, ponakan suami korban menuturkan, peristiwa itu bermula tatkala korban yang saat itu sedang berada di rumah mertua didatangi rombongan keluarganya yang berjumlah delapan orang menggunakan pick up Suzuki Carry warna putih.

Mobil pick up Suzuki Carry putih yang digunakan rombongan dari Oenggaut saat membawa paksa bayi korban dari rumah mertuanya di Oeseli. ( Foto tangkapan layar video )
“Mereka tiba di sini kira-kira pukul 10 pagi dan tanpa basa basi langsung menanyakan keberadaan mama kecil saya (Novi/korban,red),” jelas Fret.
Saat itu, lanjut Fret, neneknya yang sedang berada di rumah menjawab bahwa Novi sedang berada di belakang.
Tanpa izin rombongan tersebut langsung menuju ke ruang belakang rumah dan memaksa Novi menyerahkan bayinya.
Karena menolak permintaan tersebut Novi dipukuli dan bayinya yang baru berusia enam bulan diambil paksa.
“Rombongan itu kemudian bergegas menaiki pick up yang sudah menunggu di halaman meski saat itu mama kecil saya berteriak agar bayinya tidak dibawa paksa,” lanjutnya.
Bahkan, ketika hendak merebut kembali bayinya yang sudah di tangan keluarga Novi harus berjuang keras hingga terseret kendaraan.
Rombongan dari Oenggaut tersebut berhasil membawa kabur bayi Novi dan meninggalkannya dalam kondisi memar di kaki dan sempat pingsan beberapa kali.

Nampak korban berbaring di aspal menahan kendaraan yang hendak membawa paksa bayinya hingga ia terseret dan mengalami memar. ( Foto tangkapan layar video )
Peristiwa itu kemudian dilaporkan ke Polsek Rote Barat Daya, namun tidak dibuatkan Surat Tanda Terima Laporan Polisi (STTLP).
Karena salah seorang anggota Polsek mengenal baik keluarga korban, saat itu ia menelpon dan menanyakan kronologi penganiayaan dan pengambilan paksa bayi tersebut kepada ayah korban.
Dalam percakapan itu, ayah korban menerangkan bahwa persoalan dianggapnya sudah selesai.
“Anggota polisi itu kemudian menyuruh mama kecil bersama bapak kecil saya segera ke Oenggaut agar sang bayi yang sudah diambil paksa itu bisa diberi ASI,” tutur Fret lagi.
Laporan itu pun kemudian tidak ditangani pihak polisi dan setelah mendapat perawatan dari seorang bidan, Novi dan suaminya berangkat ke Oenggaut.
Novi diketahui bersuamikan warga Oeseli namun belum menerima pemberkatan nikah sesuai tradisi ajaran agama Kristen dan masih tinggal bersama orang tuanya di Oenggaut.
Sehari sebelumnya (Minggu, 21/04/2024) saat baru tiba di Oeseli ia telah dibuntuti oleh dua orang saudaranya dan mengajak Novi pulang bersama bayinya ke Oenggaut.
Namun ajakan itu ditolak dan kedua saudara Novi kembali ke Oenggaut dengan tangan kosong.
Ditengarai karena Novi bersikeras inilah yang menyebabkan rombongan keluarganya datang ke Oeseli untuk memaksanya kembali ke Oenggaut, bahkan dengan tindakan penganiayaan.
Pemerintah dan APH Jangan Abai
Salah seorang keluarga suami korban mengaku kecewa atas tindakan penganiyaan tersebut.
“Kami sesalkan cara tidak berperikemanusiaan ini, untungnya korban tidak sampai mengalami hal fatal. Kalau tidak kami yang tidak tahu apa-apa jadi ikut terseret,” ujarnya.
Ia berharap peristiwa ini menjadi catatan bagi pemerintah dan pihak berwenang, terutama polisi yang sudah mendapat laporan atas kejadian tersebut.
Pemerintah maupun aparat penegak hukum tidak boleh abai dan menanggapi sepele persoalan seperti ini.
Menurut dia, tidak ada masalah apa pun antara korban dan suaminya maupun dengan keluarga di Oenggaut.
Penganiayaan ini menunjukkan bahwa perilaku tidak manusiawi yang melanggar HAM masih dianggap sebagai hal lumrah di zaman ini.
“Kami harap ini jadi catatan khusus bagi pemerintah dan pihak berwenang di sini agar tidak terjadi pembiaran terhadap tindakan yang melanggar hak asasi manusia,” tandasnya.
Dari beberapa video amatir yang diterima redaksi media ini nampak korban berjuang untuk merebut kembali bayinya yang dibawa paksa rombongan keluarganya.
Korban berteriak dan menangis hendak menahan mobil pick up tersebut hingga terseret di aspal namun tidak dihiraukan.
Sampai dengan berita ini tayang, para pelaku penganiayaan termasuk aparat Polsek Rote Barat Daya belum sempat dikonfirmasi. ( YUM/MS )





























































