*BIBLE LEARNING**
Hari Minggu Biasa XXX
Minggu, 27 Oktober 2024
Sumber Inspirasi:
¤ Yeremia 31:7-9
¤ Ibrani 5:1-6
¤ Markus 10:46-52
Yerikho merupakan satu kota pemukiman tertua di dunia yang selalu dihuni.
Kita tentu masih ingat kejatuhan Yerikho ketika orang Israel menyeberangi sungai Yordan dipimpin oleh Yoshua.
Yerikho menjadi dinamika yang panjang dan bervariasi. Ada yang beriman teguh, yang lain sekedar formalitas, mungkin yang lain tak beriman.
Gambaran iman warga kota Yerikho, mungkin bisa jadi menjadi gambaran kita juga. Beriman setengah-setengah.
Ke dalam situasi inilah, Yesus masuk dan bertemu dengan Bartimeus, seorang pengemis yang buta.
Bartimeus adalah contoh kaum kecil yang terpinggirkan dari berbagai bidang kehidupan sosial.
Sebagai orang cacat, hidupnya bergantung pada belas kasih orang lain. Sebagai pengemis, ia termasuk kaum phariah yang tak mendapat penghargaan.
Kisah Injil hari ini (Markus 10:46-52) memberi gambaran kepada kita, iman kepada Yesus yang teguh dari Bartimeus.
Ketika ia mendengar Yesus lewat, ia lalu berseru: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” (ay. 47). Seruan orang buta membutuhkan pertolongan, adalah sebuah seruan mohon dibebaskan.
Untuk kaum yang menderita, dan terpinggirkan, Yesus tidak menunda-nunda untuk menyapa dan memberi pertolongan.
Iman Bartimeus itu sudah menjadi dasar yang baik. Lalu, Yesus bertanya kepada Bartimeus. “Apa yang kau kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Jawab orang buta itu: “Rabuni, supaya aku dapat melihat!” (ay. 51).
Maka, terjadilah kesembuhan bagi Bartimeus. Yesus kemudian berkata kepadanya. “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!” (ay. 52).
Saat itu pula, Bartimeus dapat melihat dan ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Kesembuhan melihat menjadi ganjaran terindah.
Lalu, bagaimana dengan kita? Di tengah kehidupan sosial masa kini yang penuh dengan dinamika, baik yang positif maupun yang negatif, dengan mudah kita dapat menemukan kalangan miskin dan termarjinalkan tersisih dari kehidupan sosial.
Ada orang miskin, ada orang yang terpinggirkan, yang termanipulasi oleh hukum, yang menjerit karena hak-hak mereka dirampas oleh kekuasaan.
Masihkah kita punya HATI menyapa mereka? Atau, kita lebih SIBUK dengan diri kita, merebut kekuasaan dengan cara-cara yang tidak beradab. Putar balik kesana-kemari dengan mengabaikan mereka yang tak bersuara.
Siapakah yang menolong mereka? Siapakah yang menjadi suara bagi mereka? Di sini kita ditantang untuk kembali ke komitmen Gereja, yakni menjadi suara bagi yang tak bersuara (to be the voice for the voiceless), sehingga jeritan nurani mereka terangkat ke permukaan.
Seperti Yesus, mari kita membangun kerelaan untuk bertindak. ( DT ).
Have a Great Sunday
@Dami Tiala
Umat Lingk. Ratu Kenyo
Ev. Gereja Paroki Santo Petrus & Paulus BABADAN Wedomartani, Sleman – Yogyakarta.























































