WEWEWA BARAT, MENARASUMBA.COM – Nasib pilu dialami Adriana Dairo Louru, seorang ibu hamil empat bulan yang tinggal di Dusun IV, Desa Kabali Dana, Kecamatan Wewewa Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya.
Saat tim media turun langsung ke lokasi, Senin (08/06/2026) malam kondisi yang dialami Adriana sungguh memprihatinkan.
Pintu dan jendela rumah yang selama ini ditempatinya tampak dipalang menggunakan kayu dan dipaku rapat sehingga tidak dapat diakses.
Akibat kondisi tersebut, Adriana terpaksa menjalani hari-harinya di luar rumah.

Tampak bagian depan rumah dimana pintu dan jendela telah disegel. ( Foto Menara Sumba )
Selama empat malam terakhir, ibu yang tengah mengandung anak keempat itu harus tidur di pinggir tembok rumah dengan beralaskan daun kelapa serta berselimutkan dinginnya embun malam.
Untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, Adriana hanya mengandalkan sisa beras bantuan pemerintah yang masih tersimpan.
Ia memasak menggunakan periuk pinjaman dari tetangga yang iba melihat keadaannya. Air untuk minum, mandi, dan memasak juga diperoleh dari bantuan warga sekitar.
Pada siang hari, Adriana masih menerima makanan tambahan bagi ibu hamil yang dikirimkan oleh Puskesmas Waimangura.
Namun, kondisi tersebut belum mampu mengatasi seluruh kesulitan yang sedang dihadapinya.
Menurut pengakuannya, persoalan bermula dari cekcok dengan mertua laki-lakinya. Setelah kejadian itu, ia diminta untuk tidak lagi tinggal di rumah tersebut.
Tak lama kemudian, pintu dan jendela rumah dipalang menggunakan kayu dan dipaku hingga tertutup rapat.
Sementara itu, suami bersama ketiga anak mereka kini tinggal di rumah mertua, meninggalkan Adriana seorang diri di lokasi rumah yang telah disegel tersebut.
Adriana juga mengaku heran dengan alasan yang disampaikan kepadanya bahwa rumah tersebut bukan hasil jerih payahnya. Padahal, menurut pengakuannya, rumah itu merupakan bantuan Pokok Pikiran (Pokir) Tahun 2023 yang diperjuangkan oleh anggota DPR RI, Ratu Ngadu Bonu Wulla.
Di tengah keterbatasan yang dialaminya, Adriana berharap ada perhatian dari pemerintah, aparat terkait, maupun pihak-pihak yang memiliki kepedulian kemanusiaan untuk membantu menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapinya.
“Yang saya harapkan hanya tempat tinggal yang layak dan rasa aman untuk saya dan anak yang sedang saya kandung,” ungkapnya dengan nada penuh harap.
Beruntung, solidaritas warga sekitar masih hadir di tengah kesulitannya. Seorang tetangga akhirnya menawarkan tempat untuk beristirahat sehingga mulai malam ini Adriana tidak lagi harus tidur di luar rumah seperti yang dijalaninya selama empat malam terakhir.
Peristiwa ini menjadi perhatian serius karena menyangkut keselamatan dan kesehatan seorang ibu hamil yang seharusnya mendapatkan perlindungan, dukungan keluarga, serta lingkungan yang aman dan layak untuk menjalani masa kehamilannya.
Hingga berita ini tayang, kami masih berupaya meminta keterangan dari pihak mertua, pemerintah desa, dan pihak terkait lainnya. ( JIP/MS )

















