WEWEWA BARAT, MENARASUMBA.COM – Ratusan warga Dusun IV Eru Naga, Desa Wee Kurra, Kecamatan Wewewa Barat, Kabupaten SBD meminta pemerintah bertindak tegas terhadap oknum yang telah melakukan penyerobotan lahan.
Hal tersebut disampaikan puluhan kepala keluarga pemilik lahan kepada sejumlah awak media, Senin (18/08/2025) di Kampung Eru Naga.

Dairo Lede, warga Eru Naga, Desa Wee Kurra : Kami sudah melapor sampai ke bupati tapi belum ada tindakan tegas. ( Foto Menara Sumba )
Setelah lahan diserobot dan tanaman dirusak, malahan oleh pemerintah kecamatan bersama aparat para warga Eru Naga ini diminta untuk tidak melakukan reaksi apa pun.
Sementara di pihak lain para penyerobot tidak ditindaki apa-apa tetapi dibiarkan merajalela dengan aksi yang kian massif.
“Kami saat ini khawatir karena sedikit lagi musim hujan dan waktunya tanam padi, jagung sumber pangan sehari-hari,” ujar salah seorang warga bernama Dairo Lede.
Ia menyebut, upaya menahan diri untuk patuh terhadap imbauan pemerintah yang meminta warga Eru Naga tidak melakukan kegiatan di kebun, kini berbuah pahit.
Bayang kecemasan kini mulai menghantui warga karena lahan garapan yang sudah puluhan tahun diolah jadi sandaran hidup belum bisa digarap.
“Kami sudah melapor sampai ke bupati tapi tidak ada tindak lanjut dan kami hanya diminta untuk aman,” bebernya.
Menurut Tito, seorang warga lain, penyerobotan itu bermula usai panen padi ladang pada Mei 2025 lalu.
Kebun warga Eru Naga ini langsung disemprot dengan herbisida dan dibarengi dengan perusakan tanaman oleh para penyerobot.
“Setelah kami laporkan, pemerintah dan polisi juga Babinsa yang turun di lokasi mendapati langsung para penyerobot sedang melakukan aksi,” tuturnya.
Sayang, kata dia lebih lanjut, para penyerobot tidak ditangkap, sehingga makin bertindak sesuka hati merusak berbagai jenis tanaman di kebun warga.

Koni Bolo : Saya trauma setelah tahu tanaman dirusak dan isi kebun dijarah. (Foto Menara Sumba )
Mirisnya lagi, Pemerintah Desa Weri Lolo, Kecamatan Wewewa Selatan diduga memanfaatkan kisruh tersebut dengan membuka jalan ke lokasi lahan yang diserobot itu, padahal secara teritorial berada di wilayah Desa Wee Kurra, Kecamatan Wewewa Barat.
“Mereka bangun jalan itu ketika kami sedang berduka atas meninggalnya dua kerabat kami secara berturut-turut pada bulan Juli 2025, sehingga kami tidak bisa berbuat apa-apa” sebut Tito.
Koni Bolo, salah seorang warga lain mengaku trauma setelah mengetahui tanaman miliknya dirusak dan dijarah.
“Pisang, ubi, keladi, petatas dari hasil kebun kami mereka jual dan kami tidak bisa berbuat apa-apa karena ikut saran pemerintah untuk amankan diri,” ungkapnya.
Ia mengaku, semenjak berumah tangga di Kampung Eru Naga pada tahun 2002 lalu baru kali ini ada penyerobotan di lahan milik keluarganya.
Saat ini Koni Bolo tak bisa lagi menjual hasil kebun seperti pisang, keladi, ubi, maupun kakao dan mente akibat ulah oknum penyerobot.
Dirinya bersama warga lain kehilangan sumber penghasilan biaya hidup sehari-hari, terutama untuk menyekolahkan anak.
Ia dan suami bersama seluruh warga pemilik lahan mematuhi imbauan pemerintah tapi kemudian harus menderita karena penyerobot dibiarkan bertindak sesuka hati.
“Kami sangat patuh pada pemerintah, setiap tahun bayar pajak dan saat ini diminta tenang juga ikut saja,” imbuhnya.
Ia berharap, persoalan ini segera ditangani dan warga bisa kembali bekerja di lahannya seperti semula.
Pasalnya, sebagian besar warga Eru Naga menggantungkan harapan hidup pada lahan yang kini diserobot oknum tidak bertanggung jawab.
“Kami minta Ibu Bupati bisa dengar keluhan ini dan selesaikan masalahnya agar kami bisa kembali tenang bekerja,” pungkasnya. ( TIM/MS )






























































