TAMBOLAKA, MENARASUMBA.COM – Warga Sumba Barat Daya digegerkan dengan kabar keracunan makanan yang menimpa sejumlah siswa pada tiga sekolah lanjutan atas.

Ina siswi SMKN 2 Kota Tambolaka yang sempat pingsan usai menyantap hidangan MBG. ( Foto Menara Sumba )
Peristiwa mengejutkan ini terjadi pada Rabu (23/07/2025) saat kegiatan Makan Bergizi Gratis (MBG) dilaksanakan di SMAN 1 Kota Tambolaka, SMKN 2 Kota Tambolaka, dan SMK Don Bosco Wee Pangali.
Para siswa yang keracunan tersebut dilarikan ke RS Karitas, RSUD Reda Bolo, dan Puskesmas Rada Mata untuk mendapatkan penanganan medis.
Menurut pengakuan Sisi salah satu siswi kelas 12 SMAN 1 Kota Tambolaka, lauk yang disantap siang itu terdiri dari ikan tongkol, tempe, dan sup.Usai menyantap sajian menu MBG ini lidahnya terasa gatal diikuti dengan napas sesak dan pusing.
Hal senada diungkapkan dua rekannya yang juga mendapat penanganan medis di Ruang Unit Gawat Darurat (UGD) RSUD Reda Bolo.
“Awalnya saya merasa sesak napas dan sakit perut, namun dalam perjalanan mulai pusing dan mual hendak muntah,” beber salah seorang rekan Sisi.
Ia menambahkan, lauk yang disantap berupa kentang ditambah ikan tongkol yang belum matang benar.
“Nasinya juga lembek tapi masih terasa mentah saat dimakan,” ungkapnya.

Koordinator Pengawas SMA/SMK/SLB Kabupaten SBD, Ibrahim Boymau. ( Foto Menara Sumba )
Secara terpisah salah seorang siswi lain dari SMKN 2 Kota Tambolaka yang dikonfirmasi di RS Karitas menuturkan, badannya terasa gatal usai menyantap menu hidangan MBG.
Dikatakan siswi bernama Ina ini, sekujur tubuhnya gatal, badan lemas, dan pusing setelah menyantap menu ikan tongkol.
“Perut saya juga sakit dan kepala semakin pusing lalu pingsan dan baru sadar ketika sudah berada di rumah sakit ini,” akunya.
Ditemui di pelataran RS Karitas, Waitabula, Korwas SMA/SMK/SLB Kabupaten SBD, Ibrahim Boymau menjelaskan, data korban keracunan belum bisa dipastikan.
“Tapi yang diketahui jumlah siswa/siswi yang dirawat di RS Karitas mencapai 20 lebih anak,” tutur Boymau.
Pihaknya masih terus melakukan koordinasi untuk memastikan jumlah dan keberadaan siswa/siswi yang mengalami keracunan makanan.
“Karena ada juga yang memilih untuk mendapatkan perawatan di rumah masing-masing,” timpalnya lagi.
Dirinya berharap seluruh siswa yang mengalami keracunan bisa mendapatkan penanganan intensif.
Dengan demikian, sebutnya lagi, para siswa tersebut bisa ditangani asecara cepat dan tepat.
“Kami akan terus koordinasikan penanganan bagi para siswa yang terdampak keracunan makanan ini,” tandasnya. ( JIP/MS )





















































