WAIBAKUL, MENARASUMBA.COM – Pertemuan warga suku Anapasoka dan pihak Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Sumba Tengah sempat diwarnai perdebatan.
Dipimpin Kepala Suku Anapasoka, Umbu Tiru dan didampingi penasehat hukum Indah Prasetyari, SH, warga menyampaikan protes atas pengukuran tanah ulayat sejumlah 117 bidang yang dilakukan sepihak.

Foto bersama usai pertemuan di Kantor BPN Kabupaten Sumba Tengah. ( Foto Menara Sumba )
Dalam tatap muka pada Senin (17/11/2025) ini Kepala BPN Kabupaten Sumba Tengah, Abel Asa Mau, S.ST, M.AP sempat “keseleo lidah” menyampaikan kata yang menyinggung rasa.
Awalnya, ia mempersoalkan kehadiran rombongan warga Suku Anapasoka yang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu lewat surat resmi.
“Seharusnya diberitahu terlebih dahulu lewat surat sepotong kah, atau minimal melalui telepon kah, WA kah, supaya saya tahu,” ucapnya.
Namun pertemuan itu kemudian tetap berlangsung lancar hingga surat permohonan pembatalan sertifikat diserahkan dan disepakati untuk dilakukan mediasi terhadap masalah ini.
Abel Asa Mau meminta agar dalam mediasi di Kantor BPN Kabupaten Sumba Tengah kelak tidak melibatkan banyak warga karena khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Saat itulah entah sadar atau tidak, Kepala BPN Kabupaten Sumba Tengah ini melontarkan kata-kata yang dianggap menghina dan merendahkan martabat warga Suku Anapasoka.
“Bapak mohon untuk diterima surat permohonan kami, surat permohonan pembatalan, kemudian izin juga bahwa kami mohon untuk nanti kalau ada mediasi kami pilih disini saja, tempat yang netral, tempat yang netral disini saja,” ujar pengacara Indah Prasetyari.
Seketika Kepala BPN Kabupaten Sumba Tengah langsung menyela dan mengeluarkan kata-kata kurang pantas.
“Tapi begini, ini saya lihat ini, ini anaknya otak-otak pendek semua, otak pendek terlihat emosinya belum stabil ya,” kata Abel.
Pernyataan Kepala BPN Kabupaten Sumba Tengah ini diduga akibat khawatir jika mediasi melibatkan banyak orang.

Penasehat hukum Indah Prasetyari, SH bersama Kepala Suku Anapasoka Umbu Tiru (ujung kiri) dan sesepuh serta warga suku itu saat melakukan konferensi pers. ( Foto Menara Sumba )
“Siapa saja yang perlu masuk di sini Nanti saya (yang) akan izinkan Tidak semuanya harus masuk. Ya, jangan berpikir seperti itu Pak,” sela pengacara Indah Prasetyari terlihat dengan mimik tersinggung.
Dalam pembicaraan selanjutnya, salah satu pemuka Suku Anapasoka menyentil ucapan Kepala BPN Kabupaten Sumba Tengah yang disebut merendahkan martabat.
Minta Maaf
Pimpinan BPN Kabupaten Sumba Tengah ini akhirnya buru-buru menyela pernyataan salah satu sesepuh suku Anapasoka, dan mencabut pernyataan “slip tongue” tersebut.
“Pertama saya cabut untuk kata otak pendek. Maksud saya itu saya merasa bahwa kita ini kekeluargaan, saya bicara ada otak pendek tadi itu maksudnya ya adik-adik kita ini kan emosinya belum stabil, itu maksud saya,” timpal Abe mencabut ucapannya.
Menurut dia pernyataan itu tidak bermaksud menghina, merendahkan , atau melecehkan, tapi ungkapan keakraban karena dirinya merasa sebagai bagian dari keluarga suku Anapasoka.
Ia menegaskan dirinya merasa bahwa yang datang adalah adik-adiknya, dan orang tuanya sendiri sehingga mengucapkan bahasa itu.
“Atau ada yang tersinggung, saya minta maaf ya,” ucapnya lagi.
Saat konferensi pers usai pertemuan di Kantor BPN Kabupaten Sumba Tengah, pengacara Indah Prasetyari juga mengungkapkan rasa kecewa atas “slip tongue” Abel Asa Mau yang bernada rasis.
“Saya juga kecewa ketika disebut orang Jawa oleh pimpinan BPN dalam pertemuan tersebut,” ungkap Indah.
Ia tidak paham apa maksud pimpinan BPN Kabupaten Sumba Tengah ini menyinggung asal-usul dalam dialog itu.
“Kalau dilihat asal-usul saya ini kan orang Sumba juga dari turunan ibu,” jelasnya.
Namun saat itu ia memilih diam karena tidak ingin membuat situasi dalam dialog itu memanas.
“Hanya saja kita kecewa karena ucapan itu datang dari seorang abdi negara yang juga pimpinan salah satu instansi penting pemerintah di Sumba Tengah,” tutupnya dengan nada kecewa. ( JIP/MS )




















