TAMBOLAKA, MENARASUMBA.COM – Ketika Spanyol memastikan langkah ke final Piala Dunia 2026 usai menundukkan Prancis, dunia kembali diingatkan bahwa prestasi sepak bola bukanlah hasil keberuntungan.
Di balik kemenangan itu terdapat sistem pembinaan yang kuat, kompetisi yang sehat, tata kelola organisasi yang profesional, serta regenerasi pemain yang berlangsung tanpa henti.
Kini, perhatian dunia tertuju pada semifinal lainnya yang mempertemukan Inggris dan Argentina. Di atas kertas, Inggris sedikit lebih diunggulkan berkat performa yang konsisten dan kedalaman skuad yang merata.
Namun, Argentina tetap memiliki karakter juara dan pengalaman menghadapi laga-laga besar. Siapa pun pemenangnya dipastikan akan menghadapi tantangan berat melawan Spanyol di partai final.Namun, euforia Piala Dunia juga patut menjadi bahan refleksi bagi Indonesia, termasuk Kabupaten Sumba Barat Daya.
Di saat negara-negara besar menikmati hasil pembinaan puluhan tahun, sepak bola di daerah masih berkutat pada persoalan klasik: kompetisi yang tidak berkesinambungan, minimnya pembinaan usia dini, keterbatasan infrastruktur, hingga lemahnya tata kelola organisasi.
Kegagalan Persada Sumba Barat Daya melangkah lebih jauh di Liga 4 memang mengecewakan. Sebagai klub yang membawa nama daerah dalam sejarah keikutsertaan di kompetisi nasional, masyarakat tentu berharap Persada mampu berbicara lebih banyak. Namun hasil akhir berkata lain.
Kegagalan tersebut seharusnya tidak berhenti pada evaluasi teknis terhadap pemain atau pelatih semata. Yang jauh lebih penting adalah mengevaluasi sistem pembinaan sepak bola di Sumba Barat Daya secara menyeluruh.
Pertanyaan besar yang patut dijawab adalah: apakah pembinaan sepak bola di Sumba Barat Daya sudah berjalan sesuai arah yang benar?
Jika kompetisi usia dini belum berlangsung rutin, jika klub-klub lokal kesulitan berkembang karena minim dukungan, jika pembinaan pelatih dan wasit belum menjadi prioritas, maka akan sulit berharap muncul pemain-pemain berkualitas secara berkelanjutan.
Peran Askab PSSI Sumba Barat Daya menjadi sangat penting. Organisasi ini tidak cukup hanya hadir saat kompetisi berlangsung, tetapi harus mampu menyusun peta jalan pembinaan sepak bola daerah yang jelas, terukur, dan berkesinambungan. Pemerintah daerah pun tidak bisa hanya menjadi penonton. Dukungan anggaran, penyediaan sarana olahraga, hingga kebijakan pembinaan atlet muda merupakan investasi jangka panjang yang hasilnya mungkin tidak terlihat hari ini, tetapi akan menentukan masa depan sepak bola daerah.
Di sisi lain, dunia usaha melalui program tanggung jawab sosial (CSR) juga dapat mengambil bagian dalam mendukung pembinaan olahraga. Sepak bola bukan hanya soal prestasi, tetapi juga menjadi ruang pembentukan karakter generasi muda.
Spanyol telah menunjukkan bahwa kesuksesan lahir dari sistem yang dibangun dengan kesabaran dan konsistensi. Sumba Barat Daya pun memiliki potensi yang tidak kalah besar. Talenta muda tersebar di berbagai kecamatan. Yang masih dibutuhkan adalah keseriusan semua pemangku kepentingan untuk mengelolanya secara profesional.
Persada Sumba Barat Daya boleh tersingkir dari Liga 4. Namun semangat membangun sepak bola daerah tidak boleh ikut gugur. Justru dari kegagalan inilah harus lahir tekad baru untuk melakukan pembenahan total.
Sebab sepak bola yang maju bukan dibangun dalam satu musim kompetisi, melainkan melalui kerja keras, komitmen, dan keberanian memperbaiki diri dari waktu ke waktu.
Jika pembinaan dilakukan dengan benar dan seluruh elemen bersatu, bukan mustahil suatu hari nanti Sumba Barat Daya mampu melahirkan klub yang disegani di tingkat nasional, bahkan pemain-pemain yang mengenakan seragam Merah Putih di panggung internasional. ( RED/MS )

















