Pendidikan

Mahasiswa Unika Weetebula Pertanyakan Transparansi Biaya Pendaftaran KKNT Gentaskin Rp1 Juta per Orang

×

Mahasiswa Unika Weetebula Pertanyakan Transparansi Biaya Pendaftaran KKNT Gentaskin Rp1 Juta per Orang

Sebarkan artikel ini

TAMBOLAKA, MENARASUMBA.COM – Sejumlah mahasiswa Universitas Katolik (Unika) Weetebula mempertanyakan transparansi penggunaan biaya pendaftaran program Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Gentaskin sebesar Rp1 juta per mahasiswa yang dipungut oleh pihak kampus.

Dengan jumlah peserta sekitar 200 mahasiswa, total dana yang dihimpun dari biaya pendaftaran tersebut diperkirakan mencapai Rp200 juta.

Program KKNT Gentaskin merupakan program yang difasilitasi oleh LLDIKTI di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) untuk mendukung percepatan penurunan angka stunting di wilayah Nusa Tenggara Timur, meliputi Pulau Sumba, Alor, dan Timor.

Kepada media ini, Minggu (12/07/2026) salah seorang peserta KKNT Gentaskin, Dominggus Ghoghi, yang akrab disapa Ming Ghoghi dan juga menjabat sebagai Ketua PMKRI Cabang Tambolaka mengaku, hingga kini mahasiswa belum memperoleh penjelasan resmi mengenai penggunaan dana pendaftaran tersebut.

“Saya mempertanyakan transparansi uang pendaftaran yang diminta pihak kampus kepada mahasiswa yang mengikuti KKNT Gentaskin. Biayanya Rp1 juta per mahasiswa dengan kuota sekitar 200 orang, tetapi sampai sekarang belum ada penjelasan resmi mengenai penggunaan uang itu,” ujar Ming kepada MenaraSumba.com.

Menurut Ming, berdasarkan informasi yang diperolehnya dari mahasiswa di perguruan tinggi lain, peserta KKNT Gentaskin tidak dikenakan biaya pendaftaran.

“Saya mendapat penjelasan dari teman-teman di kampus lain bahwa mereka tidak diminta membayar biaya pendaftaran. Bahkan ada kampus yang mengembalikan uang mahasiswa yang sebelumnya sudah mendaftar KKN reguler setelah dinyatakan lolos KKNT Gentaskin,” katanya.

Ia mencontohkan mahasiswa dari Unkriswina Sumba dan Undana Kupang yang disebutnya tidak dibebankan biaya mengikuti program tersebut.

“Kawan-kawan saya di Unkriswina dan Undana Kupang tidak diminta biaya karena KKNT Gentaskin ini katanya merupakan program yang difasilitasi LLDIKTI,” lanjutnya.

Ming juga mengaku pernah meminta penjelasan melalui grup WhatsApp KKNT Gentaskin, namun belum memperoleh jawaban yang memuaskan.

“Saat saya bertanya di grup WhatsApp, dijelaskan bahwa uang itu untuk konsumsi saat pembekalan. Tetapi faktanya kami tidak menerima konsumsi maupun makanan ringan selama pembekalan,” ujarnya.

Ia berharap pihak kampus segera membuka secara transparan rincian penggunaan dana tersebut.

“Saya membutuhkan kejelasan penggunaan uang itu. Kalau memang tidak jelas penggunaannya, saya berharap dana tersebut dikembalikan kepada mahasiswa supaya tidak menjadi preseden buruk dalam sejarah Unika Weetebula,” tegasnya.

Ming mengaku dirinya bahkan harus meminjam uang dengan bunga 15 persen agar dapat membayar biaya pendaftaran KKNT Gentaskin.

“Saya sampai meminjam uang berbunga 15 persen supaya bisa ikut KKN. Setelah saya tahu program ini sebenarnya tidak membutuhkan biaya, saya semakin mempertanyakan kenapa mahasiswa masih diminta membayar. Kami juga tidak mendapat baju KKN, sehingga kami bertanya uang itu digunakan untuk apa,” ungkapnya.

Dikonfirmasi terpisah lewat pesan WhatsApp, salah seorang panitia KKNT Gentaskin Unika Weetebula enggan memberi klarifikasi.

“Malam, terima kasih. Nanti kami infokan lebih lanjut ya,” tulisnya singkat. ( JIP/MS )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *