TAMBOLAKA, MENARASUMBA.COM – Segenap civitas SMK Pancasila Tambolaka, SBD diminta agar tidak terprovokasi isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) yang kini sedang viral di media sosial.
Imbauan ini disampaikan Kepala SMK Pancasila Tambolaka, Aleks Rangga Pija, SH, M.Pd menyusul berkembangnya perdebatan panas di media sosial yang mempertentangkan perbedaan keyakinan.
“Sekolah ini sudah dikenal sebagai salah satu lembaga pendidikan yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi,” ujarnya, Rabu (06/01/2025).
Pencerahan awal sudah dilakukan dalam rapat dewan guru di hari pertama masuk sekolah pada Senin (05/01/2026) lalu.
Sedangkan untuk para siswa baru dilakukan pada Rabu (00/01/2025) pagi itu
Selaku pimpinan ia memberikan penguatan dan edukasi kepada para pendidik maupun tenaga kependidikan yang mengabdi di SMK Pancasila Tambolaka.
“Saya bilang, karena kita sudah saling mengenal satu sama lain,” tutur Aleks.
Maklum, para pendidik, tenaga kependidikan, maupun siswa di sekolah itu datang dari berbagai latar belakang agama, baik Katolik, Protestan, maupun Islam.
Para pendidik diingatkan untuk tidak terpengaruh isu penistaan agama yang sedang viral di medsos dan mengundang perpecahan di tengah masyarakat.
“Saya teguhkan mereka dan katakan betul ini lembaga pendidikan Katolik, tapi kita bukan urus rumah ibadah di sini,” timpalnya.
Secara khusus ia minta agar tidak terusik, tidak terganggu, dan tidak ikut berkomentar perihal Pendeta Benyamin Ana Ote.
“Biarkan itu tugas orang-orang yang mengurus kerajaan surga, tugas kita belajar untuk selalu rendah hati,” katanya berseloroh.
Perbedaan bukan untuk diperdebatkan secara membabi buta di depan publik, apalagi dengan narasi menyerang dan menghina pihak lain.
Pengakuan negara terhadap perbedaan dan keberadaan agama serta aliran kepercayaan merupakan kata kunci toleransi yang harus dijunjung tinggi.
Semua civitas di sekolah itu memiliki peran dan tanggung jawab bersama untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang kondusif, produktif, dan berkualitas demi mencapai tujuan pendidikan.
“Setelah saya sampaikan itu, akhirnya semua jadi semangat kembali,” tutupnya. ( JIP/MS )




































