TAMBOLAKA, MENARASUMBA.COM – Program Pengentasan Pemukiman Kumuh Terpadu (PPKT) di RT 07 Kelurahan Waitabula, Kecamatan Kota Tambolaka, Kabupaten SBD menuai soal.
Kegiatan yang digawangi oleh Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Perkim) Kabupaten SBD ini berjalan tidak sesuai harapan.

Agustinus, salah satu warga penerima bantuan yang terlanjur bangun rumah gunakan material tidak bermutu. ( Foto Menara Sumba )
Pasalnya, material bangunan yang dipasok supplier jauh di bawah standar kualitas.
Sebagian besar penerima manfaat dari pembangunan rumah baru swadaya sebanyak 46 unit dan peningkatan kualitas rumah swadaya sebanyak 14 unit ini mengaku kecewa karena material bangunan yang tidak bermutu.
Pantauan awak media, Rabu (27/08/2028) konstruksi bangunan yang sudah dikerjakan warga rapuh akibat kualitas pasir yang anjlok.
“Pasir yang kami peroleh mengandung banyak lumpur,” sebut Agustinus, salah satu warga penerima bantuan PPKT ini.
Akibatnya bangunan yang sudah terlanjur “rata tembok” ini tidak kokoh karena campuran semen dan pasir enggan menyatu.
Demikian halnya cor sloof untuk dasar tembok serta tiang yang rapuh akibat nihilnya daya rekat campuran semen dan pasir.
“Saya terpaksa siasati dengan kekuatan plesteran tembok yang gunakan pasir lain dengan perbanyak jumlah semen,” akunya.

Cor sloof salah satu bangunan warga yang rapuh, nampak besi beton menyembul setelah dikorek gunakan jari tangan. ( Foto Menara Sumba )
Sebagian besar warga mengaku, ukuran batu untuk bangunan tembok pun tidak normal dan kurang kuat karena ada sebagian yang pecah.
“Kami sering keluhkan tapi mau bagaimana lagi, terpaksa dipisah batu yang kurang normal dan yang masih bisa dipakai,” tutur Lusia warga lainnya.
Ibu rumah tangga ini juga menunjukkan tumpukan papan mahoni untuk bingkai jendela yang nampak tidak bisa dimanfaatkan.
Pantauan mata awak media, terlihat serpihan papan yang sama sekali tidak layak dijadikan bingkai jendela.
“Ukurannya tidak normal dan itu juga kulit papan,” bebernya.
Nampak pula bangunan berukuran panjang 6 meter dan lebar 6 meter ini baru sebatas pondasi.
Saat dicek awak media, ternyata konstruksi beton cor sloof bangunan rapuh dan mudah terkelupas.

Material pasir dengan kandungan lumpur yang sangat tinggi. ( Foto Menara Sumba )
Hanya dengan jari, salah satu awak media mencoba memeriksa kekuatan sloof di atas pondasi ini, dan ternyata langsung terkelupas hingga besi beton pun tersembul.
“Kita berdoa saja agar nanti kalau ada gempa bangunnya bisa tahan dan tidak roboh,” ujar Hendrik warga lainnya.
Awak media juga mendapati Nita Bora salah satu warga di RT 07 ini yang sedang mengumpulkan bongkahan sirtu.
Saat ditanya ia mengaku terpaksa gunakan bongkahan sirtu sebagai pengganti kerikil untuk cor beton.
“Kami tunggu-tunggu kerikilnya tidak kunjung diturunkan, terpaksa pakai apa yang ada karena tukang juga buru waktu,” ucapnya polos.
Sejumlah tukang yang tengah mengerjakan tembok bangunan mengeluhkan kualitas pasir dan ukuran batu yang tidak sesuai.
Kondisi tembok nampak rapuh, dimana batu yang sudah terpasang mudah goyah, bahkan ada yang terlepas saat disentuh.
Hingga berita ini tayang sejumlah pihak yang terlibat dalam penanganan PPKT, baik unsur dinas maupun supplier enggan berkomentar.

Bantuan material kerikil tak kunjung didroping, cor bangunan rumah Nita Bora terpaksa gunakan bongkahan sirtu. ( Foto Menara Sumba )
Saat dihubungi, Rabu (27/08/2025), Yanto yang disebut sebagai supplier dalam kegiatan ini enggan memberi konfirmasi.
Ia beralasan sedang mengikuti even pacuan kuda di Waikabubak, Sumba Barat dan meminta agar beritanya jangan ditayangkan dulu sebelum ada klarifikasi.
“Tunggu hari Jumat saya pulang,” pintanya lewat sambungan kontak WhatsApp saat itu.
Namun pengusaha muda pemilik perusahaan Bintang Kopi asal Waimangura, Wewewa Barat ini kembali mengelak saat ditelepon pada Jumat (29/08/2025).
“Nanti hubungi dinas saja,” kata Yanto singkat dari seberang telepon.
Pihak dinas yang sejak Rabu (27/08/2025) tidak menjawab panggilan awak media pun kembali enggan memberi klarifikasi.
Kepala Bidang Perumahan, Dinas Perkim Kabupaten SBD, Agustinus Dapaloka yang dihubungi saat itu, lagi-lagi tak mau berkomentar saat diwawancara wartawan pada Jumat (29/08/2025).
“Kami hanya bawahan, tidak bisa berkomentar tanpa izin pimpinan,” tandasnya saat dikonfirmasi di Kantor Lurah Waitabula. ( TIM/MS )






























































