TAMBOLAKA, MENARASUMBA.COM – Pencairan dana Program Indonesia Pintar (PIP) saat ini dilakukan sendiri oleh siswa bersangkutan.
Demikian pula bagi siswa SMAN 1 Wewewa Utara yang jaraknya puluhan kilometer dari kantor bank di Tambolaka.
Aktivitas ini mengganggu kegiatan belajar siswa di sekolah tersebut akibat.harus berurusan sendiri dengan pihak bank.
Hal tersebut disampaikan Kepala SMAN 1 Wewewa Utara, Lukas Dadi Murri dalam tatap muka bersama Komisi V DPRD NTT dan pengawas serta kepala SMA, SMK, dan SLB se Kabupaten SBD, Kamis ((08/05/2025) di Aula SMK Pancasila Tambolaka.
“Untuk bisa mencairkan dana PIP para siswa ini harus antre dari pagi dan ada yang sampai sore baru dilayani,” ungkapnya.
“Apabila pada hari itu siswa tersebut belum mendapat giliran maka ia harus kembali keesokan hari,” tambahnya lagi.
Keadaan ini memaksa siswa harus meninggalkan aktivitas pokoknya menerima pelajaran di sekolah.
Karena itu Lukas berharap agar tata cara pencairan dana PIP dipertimbangkan kembali supaya tidak menggangu aktivitas belajar siswa.
“Jadi mungkin dipertimbangkan sistem pembayaran beasiswa ini, apakah nanti bisa secara kolektif,” usulnya..
Sebagai kepala sekolah ia merasa prihatin atas apa yang dialami para siswanya.
Akibat jarak yang jauh, ia harus turun tangan sendiri mengantar para siswa ke kantor bank.
“Sekolah saya itu 30 km dari kota Tambolaka, maksimal dalam sehari ada 25 peserta didik yang harus saya antar sendiri dengan kendaraan pick up,” beber Lukas.
“Karena itu mohon solusi bagi kami yang jauh dari kantor bank,” tandasnya. ( JIP/MS )
#pendidikan #danapip #smanwewewautara





















































