Ekonomi/Pembangunan

Meski Pasar Rakyat Waibakul Sunyi, 11 Pedagang Bertahan dengan Sisa Harapan Menunggu Ketegasan Pemerintah

×

Meski Pasar Rakyat Waibakul Sunyi, 11 Pedagang Bertahan dengan Sisa Harapan Menunggu Ketegasan Pemerintah

Sebarkan artikel ini

WAIBAKUL, MENARASUMBA.COM – Menjelang siang, lorong-lorong Pasar Rakyat Waibakul terlihat lengang. Deretan lapak yang dibangun megah dengan anggaran pemerintah berdiri sunyi.

Pada Jumat (10/07/2026) itu hanya empat pedagang yang masih setia menjaga lapaknya, sementara angin bebas berembus melewati los pasar yang tanpa isi. Tidak ada hiruk-pikuk tawar-menawar. Tidak terdengar riuh pembeli.

Yang tersisa hanyalah kesunyian panjang yang telah mereka jalani selama empat tahun terakhir.

Di antara sebelas pedagang yang masih bertahan adalah Erma, seorang gadis muda lulusan sekolah keperawatan. Setiap hari ia menjaga kios sembakonya dengan harapan ada pembeli yang datang.

Saat hari pasar, Rabu dan Sabtu, ia menambah penghasilan dengan menjual pisang goreng dan ubi goreng.Namun harapan itu semakin tipis.

Erma (atas) dan Karolina (bawah) dua dari 11 pedagang yang masih bertahan di Pasar Rakyat Waibakul. ( Foto Menara Sumba )

Menurut Erma, pendapatan pedagang terus merosot sejak aktivitas perdagangan berpindah ke kawasan yang dikenal masyarakat sebagai Pasar Mayora, pasar liar di pinggir jalan yang berlangsung hampir setiap hari.

“Pasar ini jadi terbagi. Yang resmi di sini, tetapi yang ramai justru di pinggir jalan,” tuturnya.

Ia berharap Pemerintah Kabupaten Sumba Tengah mengambil langkah tegas dengan mengembalikan para pedagang ke Pasar Rakyat Waibakul agar denyut ekonomi kembali hidup.

Bukan hanya soal pembeli yang hilang. Malam hari menjadi ujian lain bagi mereka yang masih memilih bertahan.

Penerangan di kawasan pasar sangat minim. Untuk menyalakan lampu di kiosnya, Erma harus menarik kabel listrik dari kantor pasar menuju lapaknya.

Baginya, itu bukan solusi, melainkan bentuk keterpaksaan. Saat malam tiba, kawasan pasar berubah menjadi gelap gulita.

Kondisi itu membuat rasa aman ikut menghilang. Beberapa pekan lalu, tetangganya kehilangan dua ekor babi peliharaan akibat pencurian.

Bahkan, anjing peliharaan warga juga dilaporkan raib. Petugas keamanan, katanya, hanya terlihat saat hari pasar.

“Kami berharap Pak Bupati mendengar aspirasi kami. Tolong perhatikan keamanan pasar dan tertibkan pedagang yang berjualan di pinggir jalan agar kembali ke pasar resmi,” harap Erma.

Pasar yang Kehilangan Denyut

Di sudut lain pasar, Karolina duduk menjaga dagangan sirih pinangnya. Dulu ia menjual sembako.

Sebagian dari lapak yang kosong tidak terisi di area pasar. ( Foto Menara Sumba (

Namun usaha itu perlahan runtuh karena modal habis sementara pembeli semakin sedikit. Agar tetap bisa bertahan hidup, ia memilih banting setir menjual sirih pinang.

Ironisnya, dalam sehari ia mengaku kadang hanya memperoleh pemasukan tidak lebih dari Rp5.000. Nominal yang bahkan sulit untuk sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Meski demikian, perempuan paruh baya itu belum menyerah. Ia tetap membuka lapaknya setiap hari, berharap suatu saat Pasar Rakyat Waibakul kembali hidup seperti ketika pertama kali dibuka.

“Sudah empat tahun pasar ini sepi. Waktu awal buka memang ramai, tetapi tidak sampai dua tahun,” ujarnya lirih.

Tidak jauh dari sana, Kornelis, pedagang kain tenun Sumba, memandang kosong lorong pasar yang tanpa pengunjung.

Ia mengaku pemerintah seolah menutup mata terhadap kondisi pasar yang kini semakin kehilangan fungsi sebagai pusat perdagangan.

Menurutnya, sejak muncul aktivitas perdagangan di Pasar Mayora, satu per satu pedagang memilih hengkang.

“Sudah empat tahun pasar ini sepi. Mohon Pak Bupati tertibkan pedagang yang berjualan di Pasar Mayora,” katanya.

Kornelis (kiri) dan Umbu Jaji Tunggu (kanan) pedagang kain serta pedagang parang yang juga memilih bertahan karena masih berharap pemerintah tertibkan pasar liar. ( Foto Menara Sumba )

Bagi dia, ketegasan pemerintah menjadi penentu apakah pasar ini masih memiliki masa depan atau benar-benar ditinggalkan.

Bertahan di Tengah Kesunyian

Di sudut lain, suara ketukan besi terdengar pelan dari lapak Umbu Jaji Tunggu. Pria lanjut usia itu masih setia memperbaiki parang dan berbagai peralatan tajam.

Keahliannya menjadi alasan mengapa ia tetap bertahan meski pasar nyaris kehilangan kehidupan.

Pelanggan yang datang bukan lagi pembeli baru, melainkan orang-orang lama yang mengenal keterampilannya.

“Akhir-akhir orang keluar dari sini karena penjual sayur semuanya pindah ke luar pasar,” ujarnya.

Kalimat itu menggambarkan bagaimana perlahan denyut ekonomi Pasar Rakyat Waibakul berpindah meninggalkan bangunan yang seharusnya menjadi pusat aktivitas masyarakat.

Di penghujung percakapan, Umbu Jaji menitipkan harapan sederhana.Ia meminta pemerintah tidak lagi berdiam diri melihat pedagang kecil berjuang sendirian.

Menurutnya, keberanian pemerintah menertibkan aktivitas perdagangan di luar pasar resmi menjadi harapan terakhir bagi mereka yang masih bertahan.

“Kami meminta dengan sangat agar Pak Bupati dan semua pihak berwenang di Sumba Tengah mendengar jeritan kami ini,” ucapnya.

Menanti Ketegasan Pemerintah

Empat tahun berlalu, Pasar Rakyat Waibakul masih berdiri megah, tetapi kehilangan denyutnya.

Di balik kios-kios yang sepi, ada keluarga yang penghasilannya terus menyusut, ada pedagang yang bertahan dengan modal keberanian, ada yang hanya memperoleh beberapa ribu rupiah sehari, dan ada pula yang hidup dengan secercah harapan bahwa pemerintah akan segera mengambil keputusan.

Sebab bagi mereka, pasar bukan sekadar tempat berdagang. Pasar adalah ruang untuk bertahan hidup.

Dan selama ketegasan belum hadir, yang terus mereka jual setiap hari bukan hanya barang dagangan, melainkan juga sisa-sisa harapan. ( JIP/MS )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *