WEWEWA BARAT, MENARASUMBA.COM – Banyak orang menggeluti usaha dagang karena bersentuhan langsung dengan perputaran uang.
Namun tidak semua berjalan mulus, kadang kala berakhir bangkrut, dan ada yang berbuah sukses.

Ansari, pemilik Kios Farel yang sukses membuka usaha kelontong di Waimangura. ( Foto Menara Sumba )
Di tengah perkembangan dunia modern masih ada pula yang percaya dengan suratan nasib dan menganggap kesuksesan berdagang tergantung garis tangan dan takdir.
Tapi banyak juga yang menganut prinsip asal ulet dan terapkan kiat berdagang yang jitu sukses tak kan lari kemana.
Seperti halnya Ansari pria asal Bima, Nusa Tenggara Barat yang membuka kios kelontong di Waimangura, Wewewa Barat, SBD.
Entah karena garis tangan atau keuletan dan kiat jitunya, usaha dagang bermacam jenis kebutuhan sehari-hari yang baru setahun dilakoni di area tersebut laris manis dikerubuti pembeli.
Ditemui media ini, Jumat (30/05/2025) Ansari berkisah jika ia tidak punya kiat khusus untuk menarik perhatian pembeli.
“Kuncinya adalah cara berkomunikasi kita dengan pembeli,” aku Ansari.
Pameo yang menyebut “pembeli adalah raja” jadi resep utama yang benar-benar dipraktikkan Ansari dengan wajib.
Tak heran, tiap kali melintas di situ awak media ini selalu mendapati suasana ramai kedai kelontong di dekat sebuah jembatan tepat di bibir sungai yang mengairi persawahan di belakang kios ini.

Sebagian dari barang dagangan di Kios Farel milik Ansari. ( Foto Menara Sumba )
“Saya juga membangun komunikasi, berinteraksi dengan warga di sini dan kerap menyambangi mereka yang sudah saya anggap sebagai keluarga” bebernya.
Karena itulah ia tidak sungkan hadir ketika ada hajatan warga, bahkan ikut menyumbang layaknya kebiasaan warga lokal, meski dirinya seorang muslim.
Layanan Familiar Harga Bersahabat
Sikap familiar yang ramah, menyapa pembeli dengan senyum membuat banyak pelanggan setiap hari mampir belanja.
Kendati di area persimpangan Waimangura ini berjubel kios dan beberapa toko besar hingga mini market, Kios Farel milik Ansari terbukti paling ramai dikunjungi pembeli.
Tidak menarik untung besar dari setiap mata barang yang didagangkannya, jadi salah satu daya pikat yang menarik minat pelanggan belanja di Kios Farel.
Jualan paling laris kata dia adalah beras, ikan kering, pakan ternak, dan berbagai kebutuhan sehari-hari lain terlebih rokok.
“Untung seribu rupiah sudah cukup yang penting perputarannya lancar setiap hari,” beber Ansari.
Dalam sehari perputaran uang di kios kelontong miliknya ini rata-rata mencapai enam hingga tujuh juta rupiah.
Pelan tapi pasti ruang usaha yang awalnya cuma satu bilik saja kini mulai bertambah di samping kiri dan kanan.
Sifat Ansari yang mudah bergaul, tidak pelit, dan suka berbagi dengan warga sekitar jadi salah satu kelebihan.
Ada pula tiga karyawan wanita warga setempat yang sehari-hari membantu Ansari dan istri melayani pembeli.
“Mereka sudah dianggap sebagai keluarga sendiri, dan setiap hari kami sisihkan 30-35 ribu untuk sekedar imbalan,” tutur Ansari.
Mengelola usaha yang hanya mengharap ramainya pembeli dengan harga barang yang terbilang murah memang bukan hal mudah.
Perbedaan harga lebih murah seribu dua ribu tetap ia pertahankan sebagai ciri khas kios miliknya ini.
“Karena itu pula kami tidak bisa melayani utang atau bon sebab untungnya sudah tipis sekali,” tandasnya.
Kata kunci yang ia pegang teguh adalah merawat kepercayaan para relasi, baik pembeli maupun relasi bisnis yang menyuplai barang dagangan.
“Karena bagi saya kepercayaan itu adalah mata uang yang berlaku dimana-mana,” pungkasnya. ( JIP/MS )





















































