KODI, MENARASUMBA.COM – Gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 5,9 yang mengguncang wilayah Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Minggu (4/10/2026) pagi masih menyisakan trauma bagi para siswa SDI Pero, Desa Pero Konda, Kecamatan Kodi.
Demi keselamatan, proses kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah tersebut terpaksa dilakukan di teras sekolah.
Langkah ini diambil karena pihak sekolah masih mengkhawatirkan kemungkinan terjadinya gempa susulan serta kondisi sejumlah bangunan sekolah yang mengalami kerusakan.
Kepala SDI Pero, Nurhayati H. Abdul Gani, SE, mengatakan, pihak sekolah belum berani untuk kembali melaksanakan aktivitas belajar di dalam ruang kelas.
“Kami khawatir dan siswa juga takut sehingga memilih untuk belajar di luar kelas,” ujar Nurhayati saat dikonfirmasi media ini, Senin (05/10/2026).
Dinding Retak, Plafon Lepas hingga Pagar Sekolah Roboh
Gempa yang awalnya dirilis BMKG berkekuatan M6,1 tersebut berdampak cukup serius terhadap sejumlah bangunan SDI Pero yang berada di kawasan pesisir pantai.

Tembok yang retak dan plafon tercerabut akibat getaran gempa.
Pantauan di lingkungan sekolah menunjukkan sejumlah dinding tembok mengalami retakan.
Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat membahayakan keselamatan siswa dan guru apabila kembali terjadi getaran gempa.
Tidak hanya dinding, sejumlah bagian plafon juga mengalami kerusakan hingga terlepas dan jatuh.
Sementara pagar tembok yang mengelilingi kompleks sekolah dilaporkan roboh dan berserakan.
Kondisi tersebut membuat pihak sekolah memilih langkah aman dengan memindahkan sementara aktivitas belajar dari dalam ruang kelas ke area terbuka.
279 Siswa dan 11 Ruang Kelas
SDI Pero saat ini memiliki 279 siswa dengan 11 ruang kelas. Namun, jumlah rombongan belajar mencapai 13 kelas.
Sekolah yang didirikan pada 8 Juli 1956 tersebut memiliki 22 orang guru, termasuk kepala sekolah.
Karena keterbatasan ruang, dua rombongan belajar selama ini terpaksa menggunakan ruang UKS dan perpustakaan sebagai tempat belajar.
“Kini, kesulitan itu makin berat karena gedung dirusak gempa,” jelas Nurhayati.
Dengan kondisi bangunan yang terdampak gempa, keterbatasan ruang belajar tersebut jadi persoalan yang semakin serius bagi keberlangsungan proses pendidikan di sekolah tersebut.
Minta Tim Teknis Turun
Lebih lanjut Nurhayati mengatakan, pemerintah desa telah mendatangi sekolah untuk melihat kondisi pascagempa dan mengambil sejumlah data yang diperlukan sebagai bahan laporan.
Namun, pihak sekolah berharap pemerintah segera mengirimkan tim teknis untuk melakukan pemeriksaan terhadap bangunan yang mengalami kerusakan.
Menurutnya, pemeriksaan tersebut penting untuk memastikan tingkat keamanan bangunan sebelum siswa dan guru kembali melaksanakan kegiatan belajar mengajar di dalam ruangan.
“Makanya kami belum berani beraktivitas dalam ruangan mengingat kondisi tembok bangunan yang rapuh akibat retak,” katanya.
Hingga Senin (05/10/2026), pihak sekolah juga belum dapat memastikan sampai kapan KBM akan dilakukan di luar ruang kelas.
Kondisi ini menjadi perhatian serius karena menyangkut keselamatan ratusan siswa sekaligus keberlangsungan proses pendidikan di SDI Pero.
Pihak sekolah berharap langkah cepat pemerintah dapat dilakukan, terutama melalui asesmen teknis terhadap seluruh bangunan sekolah, sehingga dapat diketahui ruang mana yang masih aman digunakan dan bagian mana yang membutuhkan perbaikan segera.
“Kami sangat berharap bantuan pemerintah untuk keberlangsungan kegiatan pendidikan di sekolah ini,” pungkas Nurhayati. ( JIP/MS )






















