Pertanian/Peternakan

Ketua Asosiasi Peternak Babi SBD Soroti Budaya Pesta, Sebabkan Konsumsi dan Harga Melonjak

×

Ketua Asosiasi Peternak Babi SBD Soroti Budaya Pesta, Sebabkan Konsumsi dan Harga Melonjak

Sebarkan artikel ini

TAMBOLAKA, MENARASUMBA.COM – Ketua Asosiasi Peternak Babi Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Yohanes Ngongo, menyoroti perilaku konsumtif sebagian masyarakat yang menggelar pesta besar tanpa memiliki persiapan ternak babi sendiri.

Menurut Yohanes, kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kebutuhan babi di SBD meningkat drastis.

Tingginya permintaan kemudian berdampak pada melonjaknya harga babi di pasaran.

Yohanes menyampaikan hal tersebut kepada awak media usai mengikuti pertemuan antara pengusaha atau pemasok babi dari luar pulau dengan peternak lokal yang difasilitasi Pemerintah Kabupaten SBD, Senin (24/8/2026).

Ia menilai, saat ini semakin banyak masyarakat yang menggelar pesta dalam skala besar, namun tidak memelihara babi untuk memenuhi kebutuhan hajatan tersebut.

“Lebih banyak orang yang bikin pesta, tidak ada yang pelihara babi. Dia bikin pesta besar-besaran, tikam babi ratusan ekor, satu ekor di kandang pun tidak ada. Dia hanya harap dari luar, orang bawa,” ungkap Yohanes.

Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi bahan evaluasi bersama.

Masyarakat, kata dia, perlu mulai mengubah pola pikir dengan kembali membangun budaya beternak sehingga kebutuhan babi untuk pesta tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan dari luar daerah.

“Nah, ini yang harus kita coba merubah mindset kita, merubah pola pikir bagaimana masyarakat ini,” tegasnya.

Yohanes yang juga menjabat sebagai Ketua DPC Partai Hanura Kabupaten SBD itu berharap, masyarakat tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan pesta, tetapi juga memikirkan persiapan kebutuhan ternak sejak jauh-jauh hari.

Ia menilai, jika masyarakat kembali meningkatkan aktivitas beternak, ketersediaan babi lokal dapat lebih terjamin dan ketergantungan terhadap pasokan dari luar pulau dapat dikurangi.

Persoalan tingginya harga babi sendiri menjadi salah satu isu yang terus mendapat perhatian, terutama karena babi memiliki posisi penting dalam berbagai kegiatan sosial dan adat masyarakat Sumba.

Karena itu, menurut Yohanes, solusi terhadap persoalan harga babi tidak hanya bergantung pada mendatangkan pasokan dari luar daerah, tetapi juga membutuhkan perubahan pola pikir masyarakat serta penguatan peternakan babi lokal. ( JIP/MS )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *