TAMBOLAKA, MENARASUMBA.COM – Program Pengentasan Pemukiman Kumuh Terpadu (PPKT) yang diperuntukkan bagi warga RT 07, Kelurahan Waitabula, Kecamatan Kota Tambolaka, Kabupaten SBD tidak sesuai harapan.
Kegiatan yang digadang bakal jadi ikon salah satu jargon pemerintah dalam visi “menata kota” ini justru mencoreng dan jadi image buruk saat langkah awal baru dimulai.

Batu di tembok ini bergoyang saat dipegang akibat data rekat campuran yang rapuh. ( Foto Menara Sumba )
Di kawasan RT 07 ini dialokasikan anggaran untuk 47 unit swadaya pembangunan baru (46 dari DAK dan 1 dari DAU) serta 14 unit swadaya peningkatan kualitas bangunan (DAU).
Dari hasil pantauan awak media pada Kamis (28/08/2025) didapati sejumlah bangunan yang sudah “rata tembok” menggunakan material tidak berkualitas.
Salah seorang wartawan mencoba memegang batu pada tembok yang sudah terpasang di bagian jendela.
Terlihat sejumlah batu goyah hampir tercerabut karena campuran yang rapuh.
“Pasirnya berlumpur makanya tidak merekat meski diberi campuran semen lebih dari takaran normal,” ujar Theodorus salah seorang tukang.
Meski demikian tidak ada yang bisa diperbuat karena bangunan tembok rumah itu sudah hampir rampung.
Tidak bisa dibayangkan bagaimana kondisi rumah dengan konstruksi rapuh itu jika kelak sudah dihuni dan terjadi gempa bumi.

Meski sudah gunakan pasir normal, plesteran rumah Agustinus Umbu Hunggar tetap retak karena pengaruh tembok yang rapuh. ( Foto Menara Sumba )
“Ya kita tunggu saja gempa datang nanti, apa hanya retak atau rumahnya roboh,” kata salah satu warga dengan nada seloroh namun mimiknya kesal
Nita Bora, warga lain terlihat sedang menyekop bongkahan sirtu yang sudah dikumpulkannya.
Bongkahan sirtu tersebut, kata dia, digunakan sebagai pengganti kerikil untuk bahan cor bangunan rumahnya.
“Kami sudah minta tapi belum turun juga. Terpaksa pakai yang ada karena tukang tidak bisa tunggu lama-lama,” bebernya.
Secara terpisah Agustinus Umbu Hunggar, warga lain mengisahkan pula hal yang sama.
Agustinus juga mengeluhkan kondisi bangunan rumahnya yang menggunakan pasir berlumpur namun terlanjur rampung temboknya.
Karena itu ia menyiasati plesteran temboknya dengan memakai pasir lain bukan yang dipasok supplier.

Pembangunan jalan lingkungan yang dikerjakan oleh CV Gembira. ( Foto Menara Sumba )
“Tapi tetap saja saya khawatir karena untuk pondasi, sloof, cor tiang dan tembok pakai campuran yang tidak kuat dan goyah,” tuturnya.
Ada pula material kayu untuk bingkai jendela dan batu untuk tembok yang menyimpang jauh dari ketentuan bahan bangunan.
Pengentasan Pemukiman Kumuh Terpadu yang dikoordinir Dinas Perkim ini digadang sebagai salah satu primadona untuk program unggulan “Menata Kota” yang dicanangkan Pemkab SBD.
Dengan anggaran mencapai 10 miliar, PPKT di RT 07 juga meliputi pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) sebanyak 115 sambungan rumah tangga, dan 50 unit tangki septik individual sebagai bagian dari upaya memperbaiki sistem sanitasi dan kesehatan lingkungan masyarakat.
Ada juga pembangunan jalan lingkungan sepanjang 1.876 meter yang juga sedang dilakukan oleh kontraktor CV Gembira dengan anggaran 5.358.843.000.
Direncanakan setelah RT 07, akan dilanjutkan lagi dengan kegiatan serupa pada RT lain di kelurahan ini.
Sayangnya baru menjejak langkah awal kegiatan untuk menata pemukiman kumuh di tengah kota ini tercoreng oleh tata kelola kegiatan yang amburadul. ( TIM/MS )






























































