JAKARTA, MENARASUMBA.COM – Melalui kolaborasi hexahelix, Indonesia perlu serius melawan mafiosi perdagangan orang di negara ini.
Seruan ini disampaikan Gabriel Goa, Pendiri/Pengawas Jaringan Nasional Anti Perdagangan Orang yang juga Ketua Dewan Pembina PADMA Indonesia, Kamis (23/10/2025).
“Pertama, mulai dari GEMA HATI MIA atau Gerakan Masyarakat Anti Human Trafficking dan Migrasi Aman,” ujarnya.
Kedua, pendampingan korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) mulai dari penyelamatan hingga program re-integrasi plus dari korban menjadi penyintas.
“Serta pendampingan pelaku justice collaborator untuk mengejar aktor intelektual TPPO agar menimbulkan efek jera,” imbuhnya lagi.
Ketiga, melakukan lobi dan Advokasi Kebijakan Publik (AKP) lewat revisi UU Nomor 21 Tahun 2007 tentang TPPO dengan memasukkan juga BNP TPPO (Badan Nasional Penanggunglangan Tindak Pidana Perdagangan Orang) untuk melakukan pencegahan perdagangan orang, penyelamatan korban TPPO.
“Juga pendampingan di Rumah Asa Indonesia yakni pendampingan psikologis, pendampingan rohani, pendampingan kesehatan, dan program integrasi berdasarkan assesmen minat dan kemampuan diri korban,” katanya lebih lanjut.
Dilanjutkan dengan pendampingan hukum, program re-integrasi dan penyiapan dari korban menjadi penyintas.
Ketua Tim Lobi dan Advokasi Zero Human Trafficking Network dan Pendiri/Pembina The CATOC (The Coalition Against Organized Crime) ini juga menegaskan perlunya publikasi dan penerbitan sebagai upaya melawan lupa melalui film dokumenter bahkan film layar lebar.
“Stop jo bajual orang!” seru Gabriel. ( TAP/MS )





















