JAKARTA, MENARASUMBA.COM – Upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui PAM JAYA menuju era “air siap minum” masih menghadapi sejumlah tantangan. Mulai dari kondisi jaringan pipa, kebocoran air, kualitas distribusi hingga tingkat kepercayaan masyarakat terhadap air perpipaan.
Hal tersebut mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema “Menuju Era ‘Air Siap Minum’ di Jakarta: Peluang, Tantangan, dan Kesiapan Infrastruktur Kota” yang digelar di Hotel Cordela Senen, Jakarta Pusat, Jumat (21/8/2026).
FGD menghadirkan Muchamad Andi Rachman, S.Kom., Customer Care Manager PAM JAYA, sebagai narasumber dengan Maria Ellen Fransisca Y, Sekretaris Umum Asosiasi Data Analitik, sebagai moderator. Sekitar 30 peserta mengikuti diskusi yang berlangsung interaktif tersebut.
Target 100 Persen Pelayanan pada 2029
Dalam pemaparannya, Andi mengungkapkan bahwa PAM JAYA menargetkan cakupan pelayanan air minum mencapai 100 persen pada 2029.
Target tersebut mencakup 2.016.011 pelanggan, jaringan pipa sepanjang 16.234 kilometer, sebanyak 29 Instalasi Pengolahan Air (IPA), serta kemampuan distribusi air mencapai 32.950 liter per detik.
“Target kami tidak hanya memperluas sambungan pelanggan, tetapi juga meningkatkan kualitas dan optimalisasi pelayanan,” ungkap Andi dalam diskusi.
Berdasarkan data Mei 2026, cakupan pelayanan PAM JAYA saat ini telah mencapai 82,33 persen, dengan jumlah pelanggan sebanyak 1.204.173 dan jaringan pipa sepanjang 13.077 kilometer.
Air Keruh dan Pipa Tua Jadi Perhatian
Persoalan kualitas air menjadi salah satu perhatian peserta FGD. Puspitasari, warga Pisangan, Jakarta Timur, mempertanyakan kondisi air yang terkadang keruh, khususnya ketika terjadi gangguan pada jaringan.

Menanggapi hal tersebut, Andi menjelaskan bahwa air keruh dapat dipengaruhi sejumlah faktor, di antaranya pekerjaan galian, gangguan listrik, penurunan suplai, kondisi pipa yang sudah lama, hingga kebocoran.
Jika kondisi tersebut terjadi, petugas PAM JAYA melakukan flushing, yakni mengeluarkan air dari jaringan terlebih dahulu sebelum kembali digunakan.
“Kalau terjadi kondisi seperti itu, petugas melakukan flushing. Air dikeluarkan terlebih dahulu sebelum jaringan kembali digunakan,” jelasnya.
Menurut Andi, peremajaan pipa menjadi salah satu prioritas PAM JAYA. Penggantian jaringan dilakukan berdasarkan data mengenai kondisi pipa.
Untuk mendukung kebutuhan pembiayaan, PAM JAYA juga mendorong skema creative financing, termasuk melalui kerja sama dengan vendor.
NRW 48 Persen, Ditargetkan Turun Menjadi 30 Persen
Selain persoalan kualitas air, kehilangan air atau Non-Revenue Water (NRW) menjadi tantangan besar bagi PAM JAYA.
Andi mengungkapkan, tingkat NRW saat ini masih berada di kisaran 48 persen. PAM JAYA menargetkan angka tersebut dapat ditekan menjadi 30 persen.
Kehilangan air dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kebocoran jaringan, proses flushing, penggunaan air secara ilegal, hingga kecurangan dalam pencatatan meter pelanggan.
“Teknologi diperlukan untuk membantu kami memonitor penggunaan air sekaligus mengurangi potensi kehilangan air,” tegas Andi.
Karena itu, PAM JAYA mulai mengembangkan penerapan smart meter dan teknologi monitoring sebagai bagian dari rencana pengembangan layanan periode 2026–2029.
PAM JAYA Kembangkan Air yang Bisa Langsung Diminum
Pertanyaan lain yang mencuat dalam diskusi adalah mengenai keamanan air PAM JAYA untuk langsung dikonsumsi.
Irma, peserta dari Cempaka Putih, mempertanyakan jaminan kualitas air yang tersedia di fasilitas publik, termasuk stasiun dan LRT.
Andi menjelaskan bahwa PAM JAYA telah mengembangkan water purifier yang memungkinkan air dari jaringan PAM JAYA untuk langsung diminum.
PAM JAYA juga memiliki mobil laboratorium yang digunakan untuk melakukan pemantauan kualitas air secara berkala.
“Bisa langsung diminum. Kami juga memiliki mobil laboratorium yang berkeliling untuk melakukan pemantauan,” jelas Andi.
Meski demikian, kesiapan menuju era air siap minum tidak hanya bergantung pada proses pengolahan air. Kondisi jaringan distribusi, kualitas pipa serta pemeliharaan infrastruktur menjadi faktor penting untuk memastikan kualitas air tetap terjaga hingga sampai ke pelanggan.
Peserta Soroti Pelayanan Digital
Dalam sesi diskusi, peserta juga mempertanyakan mekanisme menjadi pelanggan baru PAM JAYA serta penggunaan aplikasi layanan.
Andi menjelaskan, masyarakat dapat melakukan pendaftaran melalui website PAM JAYA maupun aplikasi LAPOR PAM. Kanal tersebut juga dapat digunakan masyarakat untuk memperoleh informasi mengenai gangguan layanan serta berbagai program PAM JAYA.
Salah seorang peserta bahkan menyampaikan kendala ketika melakukan registrasi akun LAPOR PAM.
Persoalan tersebut langsung ditanggapi Andi dengan meminta nomor kontak peserta untuk ditindaklanjuti.
Dengan target cakupan pelayanan mencapai 100 persen pada 2029, PAM JAYA tidak hanya dituntut memperluas akses air perpipaan, tetapi juga memastikan air yang sampai kepada masyarakat memiliki kualitas yang baik, aman dan dapat dipercaya untuk dikonsumsi.
FGD tersebut menjadi ruang dialog antara PAM JAYA dan masyarakat untuk menyampaikan berbagai persoalan di lapangan sekaligus melihat kesiapan Jakarta menghadapi era baru layanan air minum perkotaan. ( TAP/MS )






















