TAMBOLAKA, MENARASUMBA.COM – Penyaluran BBM bersubsidi jenis Pertalite di SPBU Sherin Indah, Tawo Rara, Kecamatan Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), terus menjadi sorotan.
Pasalnya, proses pengisian Pertalite selalu diwarnai antrean yang berdesakan oleh pihak yang diduga melakukan penimbunan BBM subsidi.
Kondisi tersebut tidak hanya menyulitkan masyarakat yang membutuhkan BBM untuk menunjang aktivitas sehari-hari, tetapi juga menempatkan operator SPBU pada posisi serba salah.
Andreas Bulu, operator SPBU Sherin Indah, mengungkapkan, petugas kerap menghadapi tekanan dari konsumen ketika melayani pengisian Pertalite.
Hal itu disampaikannya saat dikonfirmasi pada Senin (31/08/2026).
“Iya, kami sebagai operator, kalau maju kami tetap kena, mundur kami tetap kena,” ujar Andreas.
Menurutnya, persoalan muncul ketika terdapat konsumen yang datang dan langsung mengambil posisi dari bagian depan antrean, sementara konsumen lain telah menunggu dari belakang.

Andreas mengatakan, kedua kelompok tersebut sama-sama merasa memiliki kepentingan dan meminta agar segera dilayani.
“Pegawai kantor kadang lewat dari depan, sedangkan orang yang ikut antre dari belakang juga ngotot. Saling ngotot dengan alasan kalau mereka butuh, kami juga butuh,” jelasnya.
Ia mencontohkan, konsumen yang masuk dari bagian depan biasanya beralasan sedang terburu-buru menuju kantor.
Namun, masyarakat yang telah mengantre dari belakang juga merasa memiliki kebutuhan yang tidak kalah penting.
“Yang pegawai dan ikut dari depan katanya mau buru ke kantor. Yang sedang antre pun teriak, kami juga mau ke kebun dan harus dilayani,” katanya.
Dituding Pilih Kasih
Situasi tersebut membuat operator mengaku kesulitan mengambil keputusan.
Andreas menjelaskan, apabila operator memilih melayani konsumen dari depan, petugas bisa mendapat protes dari masyarakat yang sudah lebih dahulu mengantre.
Sebaliknya, apabila operator tidak melayani mereka yang mengambil posisi dari depan, petugas juga mendapat tekanan dan tudingan dari pihak tersebut.
“Kita mau layani dari depan, tetapi kita dapat caci maki dari orang yang ikut antre,” ungkapnya.
Ia bahkan mengaku kerap dituding pilih kasih ketika menjalankan pelayanan.
“Kita tidak layani orang dari depan dibilang operator itu pilih muka. Muncul lagi bahasa, bilangnya ini operator kerja sama di belakang,” tuturnya.
Menurut Andreas, berbagai tudingan dan umpatan tersebut menjadi hal yang harus mereka hadapi ketika memegang nozzle atau noksel pengisian BBM.
“Itu bahasa-bahasa yang kami terima setiap hari dan setiap saat ketika kami memegang noksel sebagai operator,” katanya.
Penimbun Berdesakan Saat Pengisian Pertalite
Ketika ditanya apakah selama ini pihak yang diduga sebagai penimbun BBM subsidi memang kerap datang dan ikut mengantre untuk mendapatkan Pertalite, Andreas membenarkan hal tersebut.
“Ya, yang sering datang berdesakan antre saat pengisian Pertalite itu adalah penimbun BBM subsidi,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan adanya persoalan dalam pelayanan BBM bersubsidi di SPBU tersebut, terutama ketika antrean masyarakat bercampur dengan pihak yang diduga membeli BBM subsidi untuk kemudian ditimbun atau dijual kembali.
Namun, dugaan tersebut tetap perlu ditindaklanjuti dan diverifikasi oleh pihak berwenang untuk memastikan siapa saja yang melakukan pelanggaran serta bagaimana pola pembelian BBM bersubsidi tersebut.
Selalu Dapat Ancaman
Bukan hanya persoalan antrean. Andreas juga mengungkapkan bahwa operator SPBU menghadapi ancaman ketika menjalankan tugas pelayanan.
“Selalu ada ancaman kalau kami kerja, baik dari mereka yang ikut antre maupun yang serobot dari depan,” katanya.
Ia menjelaskan, ketika operator tidak melayani konsumen tertentu atau menggantung nozzle pengisian, petugas bisa mendapat kata-kata kasar dan makian.
“Kalau kami tidak layani, kalau kami gantung noksel, mereka kata-katai dan maki kami,” ungkap Andreas.
Dalam kondisi seperti itu, operator akhirnya memilih tetap melayani konsumen yang telah berada dalam antrean.
Namun keputusan tersebut kembali menimbulkan persoalan karena konsumen yang masuk dari bagian depan kemudian menuduh operator hanya memilih pihak tertentu.
“Akhirnya kami mau tidak mau tetap melayani orang yang ikut antrean. Maka di situlah pegawai itu yang ikut dari depan mulai umpat kami, bilang bahwa kami pilih muka dan hanya mau layani penimbun Pertalite,” jelasnya.
Menurut Andreas, kondisi tersebut membuat operator berada dalam tekanan.
“Kalau kami tidak layani yang antre, mereka tetap ancam kami. Jadi itulah yang kami takutkan sebagai operator di sini,” katanya.
Minta Polisi Ikut Amankan Pelayanan SPBU
Atas kondisi tersebut, Andreas berharap ada keterlibatan aparat kepolisian dalam pengamanan proses pelayanan BBM bersubsidi di SPBU Sherin Indah.
Ia menilai keberadaan aparat diperlukan agar petugas SPBU tidak menjadi pihak yang terus-menerus berada di tengah konflik kepentingan antara konsumen yang mengantre dari belakang dan pihak yang berusaha masuk dari bagian depan.
“Kalau boleh, ada juga dari kepolisian yang menjaga kami di sini. Jangan hanya kami pegawai sekuriti, pengawas, dan admin di sini,” harapnya.
Menurutnya, kehadiran aparat bukan semata-mata untuk mengawasi distribusi Pertalite, tetapi juga memberikan rasa aman bagi para pekerja SPBU yang setiap hari berhadapan langsung dengan konsumen.
Persoalan antrean dan dugaan penimbunan BBM subsidi di SPBU Sherin Indah kini menjadi perhatian karena menyangkut hak masyarakat untuk memperoleh BBM bersubsidi secara tertib dan adil.
Penertiban distribusi juga dinilai penting agar BBM subsidi tidak dikuasai oleh pihak tertentu yang membeli dalam jumlah atau pola yang tidak semestinya, sementara masyarakat yang menggunakan kendaraan untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan sehari-hari justru kesulitan mendapatkan Pertalite. ( TIM/MS )






















