Ekonomi/Pembangunan

Security SPBU Sherin Indah Mengaku Kewalahan Hadapi Penimbun Pertalite: Polisi Datang Mereka Pergi, Polisi Pulang Mereka Kembali

×

Security SPBU Sherin Indah Mengaku Kewalahan Hadapi Penimbun Pertalite: Polisi Datang Mereka Pergi, Polisi Pulang Mereka Kembali

Sebarkan artikel ini

TAMBOLAKA, MENARASUMBA.COM – Upaya menjaga ketertiban pelayanan pengisian BBM bersubsidi jenis Pertalite di SPBU Sherin Indah, Tawo Rara, Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), ternyata tidak mudah.

Security SPBU Sherin Indah, Ngongo Bobo, mengaku, pihaknya kerap kewalahan menghadapi sejumlah warga yang menurutnya terus datang dan menguasai antrean pengisian Pertalite.

Pernyataan tersebut disampaikan Ngongo Bobo saat dikonfirmasi Menara Sumba, Senin (31/08/2026), terkait kondisi pelayanan Pertalite di SPBU tersebut yang disebut dikuasai dan dimonopoli oleh pihak yang diduga sebagai penimbun BBM subsidi.

Ngongo mengatakan, pihak SPBU sebenarnya telah berulang kali berupaya menertibkan antrean demi kenyamanan dan keamanan pelayanan.

Namun, menurut dia, karakter orang-orang yang datang ke SPBU berbeda-beda sehingga penertiban tidak selalu mudah dilakukan.

“Maklumlah ini orang yang datang ini, karakternya berbeda-beda. Jadi kami kadang-kadang karena pengaruh emosi, minta polisi untuk datang, minta pengamanan, minta untuk bisa diatasi sedikit,” ujarnya berdalih.

Ia mengungkapkan, kehadiran aparat kepolisian pun menurutnya belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan.

Ngongo menyebut, ketika polisi datang ke lokasi, orang-orang yang sebelumnya berada di SPBU memilih pergi. Namun setelah polisi meninggalkan lokasi, mereka kembali lagi.

“Polisi datang mereka jalan dulu. Setelah polisi datang mereka jalan, polisi pulang mereka masuk lagi,” katanya.

Ngongo menegaskan, pihak keamanan SPBU tetap berusaha semaksimal mungkin menjaga ketertiban pelayanan Pertalite.

Namun, ia beralasan pihaknya menghadapi dilema ketika harus berhadapan dengan banyak orang sekaligus.

“Kami tetap berusaha semaksimal mungkin untuk mengamankan itu, tapi mereka kayaknya tidak peduli dengan kami. Jujur kami sangat-sangat berusaha sekali,” tuturnya.

Menurut Ngongo, teguran dari petugas SPBU juga kerap tidak diindahkan.

“Ketika ditegur mereka hanya diam dan diam saja,” katanya.

Situasi tersebut, lanjut dia, terkadang memicu emosi petugas.

Bahkan, ia mengakui pernah mengeluarkan kata-kata kasar ketika menghadapi situasi yang dianggap sulit dikendalikan.

“Kadang-kadang kami pun karena terlalu emosi, kami keluarkan bahasa kotor, tapi mereka tidak hiraukan,” ujarnya.

Kenal Karena Tiap Hari Berada di SPBU

Ngongo mengaku mengenal sejumlah orang yang sering berada di SPBU tersebut karena mereka disebut datang hampir setiap hari.

Namun, kedekatan atau saling mengenal itu tidak serta-merta membuat teguran petugas dipatuhi.

“Soal kenal memang kenal karena mereka itu hari-hari di SPBU. Kita ini kenal, tapi itu saya bilang tadi kita tegur juga malas tahu,” ungkapnya.

Ia mengatakan, jika petugas mengikuti emosi dan memaksakan kehendak, bukan tidak mungkin terjadi pertengkaran hampir setiap hari.

“Kalau kita ikuti emosi juga, paling-paling kita berkelahi tiap hari dengan orang-orang itu. Kita lebih banyak mengalah biar tetap berjalan pelayanan BBM Pertalite di SPBU,” katanya.

Takut Keributan dan Berhadapan dengan Massa

Lebih jauh, Ngongo mengatakan pihak security saat ini lebih memilih mengarahkan dan memberikan imbauan demi mencegah terjadinya keributan.

“Kami hanya bisa arahkan demi keamanan dan tidak terjadi keributan,” ujarnya.

Menurut dia, tindakan tegas dengan memaksa sejumlah orang keluar dari area SPBU berpotensi menimbulkan konflik apabila jumlah mereka banyak.

“Kalau kita mau memaksakan, itu pasti kita berkelahi, dan itu yang kita takut, karena berhadapan dengan massa,” kata Ngongo.

Ia menjelaskan, apabila hanya satu atau dua orang yang melakukan pelanggaran, petugas masih memiliki kemampuan untuk menertibkan bahkan mengeluarkan mereka dari area SPBU.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan ketertiban pengisian Pertalite di SPBU Sherin Indah bukan hanya menyangkut panjangnya antrean, tetapi juga menyangkut kemampuan petugas di lapangan dalam menghadapi kelompok yang datang berulang kali.

Di sisi lain, kondisi ini kembali memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas pengawasan dan penertiban distribusi BBM bersubsidi agar Pertalite dapat diakses masyarakat yang benar-benar membutuhkan. ( TIM/MS )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *