TAMBOLAKA, MENARASUMBA.COM – Pengelola Dapur Mandiri Yayasan Tana Manda Sumba (YTMS) meminta maaf usai insiden keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa 198 murid asal SMA Manda Elu dan SMA St. Alfonsus Weetebula.
Dalam konferensi pers, Selasa (11/11/2025) malam, Adam Mone selaku ketua YTMS didampingi ahli gizi Yulius Adipapa belum bisa memastikan penyebab keracunan ini.
“Kami masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium,” ujar Adam Mone.
Ia mengisahkan, pada Selasa 11 November, pukul 9.00 WITA pihaknya mendapat telepon dari Kepala SMA Manda Elu mengabarkan ada sejumlah siswa yang sakit perut.
Oleh karena itu, pihaknya langsung bergerak cepat menuju sekolah tersebut dan melakukan koordinasi.
“Ternyata memang ada beberapa adik kita yang alami gangguan sakit perut, dan diduga akibat makanan yang dikonsumsi pada hari sebelumnya, yaitu Senin kemarin,” terangnya.
Seketika itu pun ia bersama Kepala SPPG, ahli gizi, asisten lapangan, dan SPPI memobilisasi para siswa-siswi ke rumah sakit terdekat yakni RS Karitas, RSU Reda Bolo, dan Puskesmas Watu Kawula.
Kondisi ini juga langsung dikoordinasikan pula dengan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten SBD untuk meminta bantuan tenaga medis.
Pihak Dinas Kesehatan Kabupaten SBD pun langsung merespon dan bergerak cepat membantu penanganan para murid yang dirawat pada tiga sarana kesehatan ini.
“Puji Tuhan, sampai malam hari ini tersisa dua orang yang masih dirawat, satunya di RSU Reda Bolo dan satu lagi di RS Karitas,” ucapnya.
Oleh karena itulah maka Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tidak bisa mengikuti konferensi pers karena sedang berkonsentrasi menangani siswa yang keracunan.
“Kami tadi bersepakat, saya selaku Ketua Yayasan Tana Manda Sumba sebagai mitra Badan Gizi Nasional bersama ahli gizi tetap menyampaikan penjelasan agar publik bisa menerima informasi secara utuh,” timpalnya lagi.
Mewakili seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan MBG ini, dirinya menyatakan permohonan maaf kepada para siswa-siswi yang telah mengalami keracunan makanan.
“Kepada keluarga besar SMA Manda Elu dan SMA St Alfonsus serta semua sanak keluarga adik-adik yang diduga mengalami keracunan, kami sampaikan permohonan maaf yang sedalam-dalamnya,” ungkapnya tulus.
Adam menegaskan, dengan kejadian ini akan mengevaluasi total seluruh aspek pelayanan, baik dari persiapan hingga distribusi makanan
Dengan demikian ke depan kejadian serupa tidak terulang lagi, meski diakuinya jika selama ini sudah bekerja berdasarkan SOP dan juknis.
“Tapi itulah kelemahan dan kelalaian kami, dan ini akan menjadikan kami untuk introspeksi bahwa masih ada celah-celah yang mungkin luput dari perhatian kami,” tutupnya. ( JIP/MS )





















