Menemukan Wajah Tuhan dalam Keragaman: Sebuah Refleksi Filosofis dan Teologis
Oleh : Robert Syukur Djola
Perbedaan sering kali dianggap sebagai pemisah, padahal dalam kacamata batin, perbedaan adalah bukti kemegahan penciptaan. Mari kita bedah mengapa menjaga kedamaian di ruang digital bukan sekadar pilihan sopan santun, melainkan kewajiban eksistensial kita sebagai manusia beriman.
Perbedaan sebagai Keniscayaan Ontologis
Secara filosofis, perbedaan adalah Pluralitas yang Tercipta. Alam semesta tidak diciptakan dalam bentuk yang monolitik atau seragam. Jika Tuhan menghendaki keseragaman, Ia cukup menciptakan satu warna atau satu nada. Namun, realitas menunjukkan bahwa keberagaman adalah “hukum alam” (sunnatullah atau order of creation).
Dalam filsafat eksistensialisme, kita harus menyadari bahwa “Liyan” (orang lain yang berbeda dari kita) bukanlah ancaman, melainkan cermin bagi kemanusiaan kita sendiri. Menolak perbedaan berarti menyangkal hakikat realitas itu sendiri.
Teosentrisme: Satu Muara dalam Ragam Jalan
Dari sisi teologis, kita perlu menggeser fokus dari cara menyembah (eksternalitas) ke Siapa yang disembah (esensi). Meskipun kita melangkah melalui jalan setapak yang berbeda—dengan ritual, simbol, dan bahasa yang beragam—orientasi batin kita tetaplah satu: Tuhan Yang Maha Esa.
“Perbedaan cara adalah dialektika manusiawi, namun tujuan akhir kita adalah kesatuan ilahi (Unitas dalam Karakter Tuhan).”
Ketegangan sering muncul ketika kita merasa “memiliki” Tuhan secara eksklusif, padahal kita semua adalah ciptaan yang sedang mencari wajah-Nya dengan keterbatasan masing-masing.
Etika Digital: Menghentikan Kegaduhan di Ruang Publik
Media sosial saat ini sering menjadi panggung bagi “kegaduhan salah sangka”. Secara etika, berteriak di media sosial demi memicu intoleransi adalah bentuk pelanggaran martabat kemanusiaan.
Intoleransi adalah Kebisingan: Di medsos, orang cenderung bicara sebelum berpikir, menyebabkan distorsi informasi.
Dialog vs Debat: Kita perlu mengubah pola komunikasi dari debat yang ingin menjatuhkan (eristik) menjadi dialog yang ingin memahami (heuristik).
Kesimpulan
Toleransi bukan berarti kita harus menyamakan semua keyakinan. Toleransi adalah kesadaran bahwa meski cara kita berbeda, kita berpijak pada bumi yang sama dan menyembah Tuhan yang sama.
Mari berhenti menciptakan kegaduhan di ruang digital. Jangan biarkan jempol kita merusak tenunan damai yang telah diciptakan Tuhan dengan penuh kasih sayang.
Mari kita rayakan perbedaan sebagai melodi, bukan sebagai bunyi yang saling beradu. ( ***** )




































