TAMBOLAKA, MENARASUMBA.COM – Kematian almarhumah Damaris Ronga Milla Mesa yang disebut sebagai kecelakaan lalu lintas pada 21 Januari 2026 dinihari dianggap janggal oleh keluarga.
Sejumlah kejanggalan itu terlihat dari luka tidak wajar di sekujur tubuh korban yang sehari-hari dipanggil Mama Alvin.
Ada luka tikam dan sayatan di ketiak dan lengan sebelah kiri, sayatan panjang membelah perut dekat pusar, juga luka sayat di wajah.
Sejumlah kejadian mewarnai kisah tragis di penghujung malam Rabu itu beberapa jam jelang fajar merekah.
Ada telepon dari nomor tak dikenal yang ternyata datang dari Kampung Lete Timmuna, Desa Dede Pada, Kecamatan Wewewa Timur, alamat almarhumah.

Noviana Ngongo adalah salah satu dari dua saudari kandung almarhumah yang mendapat telepon dari nomor tak dikenal.
Nomor Baru Ternyata Suami Korban
Ibu muda yang disapa Mama Austin ini dihubungi oleh nomor telepon baru pada pukul 02.43 WITA, dan ternyata adalah Marten Malo Nono suami korban.
“Kurang lebih jam 2.43 ada nomor baru yang telepon. Saya terima dan langsung kenal suara suaminya, ini Mama Austin? Iya. Bagaimana? Ini Bapak Alvin, jawab dia dalam telepon itu,” kisah Noviana.
“Iya, bagaimana kakak? Ada apa? Langsung dijawabnya Mama Alvin hilang,” tutur Noviana lebih lanjut, kepada awak media, Sabtu (21/03/2026).
Ia kaget dan bertanya mengapa kakaknya dinyatakan hilang pada pukul dua dinihari.
Suami korban menjawab tidak tahu, dan hanya menjelaskan jika sudah minta bantuan pendoa (tim doa).
“Ia kemudian menjelaskan bahwa menurut tim doa Mama Alvin disembunyikan oleh orang mati,” kata Noviana lebih lanjut.
Tim Doa dan Setan yang Kuat Sekali
Marten Malo Nono alias Bapa Alvin ini pun memintanya untuk mencari bantuan tim doa yang ada di Tambolaka.
Noviana lalu bertanya kenapa tidak minta tim doa yang ada di Lete Timmuna.
“Dia jawab sudah hubungi dan sudah doa juga, tapi tidak sanggup. Kata dia, ini setan kuat sekali,” beber Noviana menirukan ucapan Marten dalam percakapan itu.
Permintaan Marten untuk cari bantuan pendoa tidak bisa dilakukan lantaran waktu sudah hampir subuh.
Apalagi saat itu sedang hujan disertai angin kencang.
“Saya bilang, maaf kakak jam begini perasaan untuk hubungi tim doa yang kami kenal,” imbuhnya.
Akhirnya Noviana menyatakan bahwa ia akan menghubungi pendoa saat mentari sudah terbit.
“Kita tunggu saja besok pagi kakak,” ujarnya mengakhiri percakapan dengan Marten Malo Nono dinihari itu.
Nada Tanpa Panik
Meski tak menaruh curiga, namun Noviana mendengar dalam percakapan itu intonasi kakak iparnya datar saja.
“Memang dia sempat ucap, saya bisa mati berdiri ini kamu punya kakak hilang,” tuturnya menirukan kata-kata Marten Malo Nono.
Namun intonasi Marten yang terdengar oleh Noviana datar saja, tanpa kesan panik seorang suami yang kehilangan istri.
Hujan lebat disertai angin di penghujung malam itu membuat ia tidak terlalu pertanyakan lebih jauh terkait soal tersebut.
Kendati demikian pada pukul empat subuh, ia masih mengirim pesan messenger kepada salah satu anak almarhumah.
Ia mendapatkan balasan jika sang kakak belum ditemukan.
“Paginya baru kami dapat kabar tentang Mama Alvin yang sudah dalam keadaan tidak tertolong,” pungkasnya. ( TIM/MS )






















