TAMBOLAKA, MENARASUMBA.COM – Duka mendalam masih dirasakan Beatrix Dada Ngongo setelah kehilangan putranya, Gregorius Bessu, yang meninggal akibat pembunuhan sadis pada 5 Juni 2024 lalu.
Selama dua tahun terakhir, Beatrix mengaku berusaha menahan kesedihan yang terus membekas.
Saat ditemui awak media pada Senin (15/06/2026), perasaan yang selama ini dipendam akhirnya ia ungkapkan di hadapan keluarga dan cucunya.
Dengan suara bergetar, Beatrix mengatakan kehilangan anak merupakan luka yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
“Selama dua tahun ini hati saya sangat teriris. Saya tidak tahu lagi bagaimana menggambarkan hancurnya perasaan saya. Dia anak yang lahir dari kandungan saya sendiri. Kehilangan dengan cara seperti ini sangat berat,” ungkapnya.
Menurut Beatrix, hingga kini dirinya masih mengalami trauma dan rasa takut setelah peristiwa yang merenggut nyawa anaknya.
Ia juga menceritakan kembali momen terakhir sebelum putranya pergi dari rumah.
Menurut pengakuannya, pada pagi hari sebelum kejadian, ada seseorang yang datang dan meminta Gregorius membantu mengangkut kerbau menggunakan kendaraan pickup miliknya.
“Saya dengar sendiri orang itu meminta anak saya untuk mengangkut kerbau karena mau dibawa ke pasar. Anak saya kemudian keluar dan pergi,” tuturnya.
Beatrix mengaku sempat memperhatikan orang yang datang tersebut.
Namun ia tidak dapat mengenali dengan jelas identitasnya karena yang bersangkutan menggunakan helm dan masker.
“Waktu itu saya lihat dia memakai masker dan helm yang menutupi wajah. Mata saya juga sudah kurang melihat dengan baik sehingga saya tidak mengenali secara jelas,” katanya.
Keluarga berharap proses hukum atas kasus kematian Gregorius Bessu dapat berjalan secara transparan dan memberikan kepastian hukum setelah dua tahun berlalu sejak peristiwa tersebut terjadi. ( JIP/MS )
.

















