(Rekaman Jurnalistik Akhir Tahun Bagian I)
Oleh : Julius Pira (Pemred Menara Sumba)
TAMBOLAKA, MENARASUMBA.COM – Hujan yang mengguyur deras di Senin (22/12/2025) pagi rupanya tak mau reda meski sudah melebat sejak malam.
Waktu terus berputar hingga jarum jam mengarah pukul 11 WITA tatkala dering handphone kembali berbunyi.
Ini yang kesekian kali nada dering terlantun dari Redmi Note 12 Pro, memberitahu ada pesan WhatsApp masuk.

Truk kuning bermuatan kuda sedang menuju kapal yang menanti muatan di dermaga Waikelo. ( Foto Menara Sumba )
Setelah kubuka, ternyata isinya sejumlah foto awak media (Stepanus Umbu Pati dan Gunter Meha) berselimut mantel kresek sedang stand by di tepi laut dalam derasnya hujan.
Rupanya kabar kurang sedap tentang patgulipat pengiriman kuda Sumba lewat Pelabuhan Waikelo, Sumba Barat Daya sedang dipastikan oleh awak media.
Hasil investigasi awak media Forum Jurnalis Independen Sumba (FORJIS) didukung informasi narasumber terpercaya mengungkap pengiriman kuda yang didominasi Sandelwood betina, dan melebihi kuota.
Setelah menanti selama beberapa hari, pada Senin (22/12/2025) tiga awak media melakukan pengintaian di area Karantina hingga dermaga Waikelo.
Sejak pagi, dalam suasana hujan dua wartawan ini mengamati dan menghitung dengan cermat mobilisasi ternak ke kapal yang berlangsung hingga malam.
Sementara saya sendiri berjaga sejak siang di area dermaga dalam guyuran hujan menahan keroncongan perut, mengawasi mobilisasi truk dan pickup pengangkut kuda hingga pekat malam tiba.
Siasat Tercium
Ternyata, dalam pantauan itu ada dua kendaraan pickup dan sebuah truk mengangkut kuda bukan dari area Karantina.
Hari itu adalah pelepasan kuota terakhir untuk tahun 2025 yang hanya tersisa 104, dimana 60 ekor kuota Kabupaten Sumba Barat dan 44 ekor kuota Kabupaten Sumba Barat Daya.

Awak media (Stepanus dan Gunter) yang stand by di area Karantina mengintai mobilisasi kuda menuju kapal. ( Dok. Istimewa )
Ternak ini hendak dikapalkan menuju Jeneponto, Sulawesi Selatan, karena di sana harga kuda dibanderol bukan kepalang, hingga mencapai 50 juta seekor.
Padahal, di Sumba paling mahal seekor hanya mencapai belasan juta harganya.
Keuntungan menggiurkan ini jadi magnet kuat yang menarik para pemburu kuda Sumba untuk terus menguras salah satu sumber daya alam Tanah Marapu.
Di tengah keasyikan mobilisasi kuda ke dalam kapal, diduga keberadaan awak media di area Karantina hingga dermaga pelabuhan sudah tercium.
Tahu siasat sudah terbaca, tak ada lagi kendaraan yang angkut kuda dari luar kintal Karantina, hingga kedatangan pimpinan Karantina ke dermaga.
Hari telah gelap ketika Kepala Karantina Satuan Pelayanan Waikelo, drh Verderika Lobo bersama staf tiba di dermaga dimana kapal pengangkut ternak berlabuh.
Sempat diwawancarai awak media, Vera Lobo sapaan akrab Kepala Karantina Waikelo menyebut, jumlah kuda yang dikapalkan sesuai kuota, 104 ekor.
“Kami pastikan tidak ada kelebihan karena semua ternak yang dikapalkan sudah melewati prosedur,” ujarnya.
Kami sempat utarakan tentang mobilisasi ternak ke kapal yang terekam bukan berasal dari dalam area Karantina.
Vera Lobo menegaskan bahwa dirinya akan tindak tegas jika hal itu benar adanya.
Namun ada pernyataan pimpinan Karantina Satuan Pelayanan Waikelo ini yang sempat terekam.

Kepala Karantina Satuan Pelayanan Waikelo, drh. Verderika Lobo (ujung kanan) saat berada Kantor Syahbandar Pelabuhan Waikelo. ( Foto Menara Sumba )
“Apa betul tidak berasal dari dalam Karantina, atau sopirnya yang mampir beli rokok di Alfamart lalu terlihat seperti itu,” timpalnya.
Bertaruh Nyali
Dihinggapi rasa skeptis, salah seorang awak media, Stepanus Umbu Pati minta izin untuk menaiki kapal guna menghitung sendiri jumlah ternak yang hendak diantarpulaukan ini.
“Silahkan, minta izin nakhoda kalau mau dicek dan hitung langsung dalam kapal,” kata Vera Lobo.
Butuh waktu agak lama, karena suasana gelap dan Stepanus harus menelusuri lambung Phinisi, kapal kayu khas Sulawesi yang sudah kesohor itu.
Bermodal senter pinjaman dari nakhoda, pentolan media Silet Sumba ini memulai hitungan dari lantai atas lambung KLM Alisya Bilqis.
Meski nyalinya tidak dipandang enteng, ia cukup kesulitan karena harus menghitung jumlah Sandelwood yang penuh sesak di lantai atas.
Namun gelap dan suasana hujan tak dipedulikan, lorong bermuatan kuda ia susuri dengan senter di kepala sambil melakukan live lewat akun Facebook.
Tak surut semangat, ia turun ke palka Phinisi yang malam itu bersiap angkat sauh hendak menuju Tanah Celebes, Jeneponto.
Di tengah pengap udara yang berhimpit aroma Sandelwood, Stepanus tak kendor niat, matanya menyapu dengan hitungan yang disiarkan langsung ke publik.
Ia kemudian menyembul dari dalam palka dan menyebut bahwa di perut KLM Alisya Bilqis hanya berisi 18 ekor kuda dan menyisakan ruang kosong yang masih luas.
“Kebanyakan dari kuda-kuda itu adalah betina muda produktif,” teriaknya lagi dari atas kapal yang diguyur hujan rintik..
Stepanus lalu menghampiri awak kapal mencocokkan data dengan lembaran dokumen yang dipegang Maman sang nakhoda. ( Bersambung )




































