( Rekaman Jurnalistik Bagian II – Habis )
Oleh : Julius Pira ( Pemred Menara Sumba )
Kangkangi Pergub NTT
Betul saja, dari 104 ekor kuda dalam lambung kapal itu, 68 ekor diantaranya adalah kuda betina yang kemungkinan sebagian besar masih produktif.
Artinya 65 persen dari ternak dalam kapal itu adalah betina yang kemungkinan besar masih bisa beranak-pinak lestarikan populasi Sandel yang kini di ujung tanduk.
Padahal Peraturan Gubernur (Pergub) Nusa Tenggara Timur Nomor 52 Tahun 2023 melarang pengiriman kuda betina produktif.

Maman, nakhoda KLM Alisya Bilqis membenarkan bahwa di dalam lambung kapal bagian bawah hanya berisi 18 ekor kuda. ( Foto Menara Sumba )
Pergub ini mengatur tentang Pengendalian Terhadap Pemasukan, Pengeluaran dan Peredaran Ternak, Produk Hewan dan Ikutannya di NTT.
Bahkan tiap kabupaten di Sumba sendiri ada peraturan baik peraturan daerah (perda) maupun peraturan bupati (perbup) yang melarang ekspor kuda betina produktif.
Namun di ujung tahun ini dalam kuota terakhir terungkap bahwa kuda yang dikirim ke Jeneponto didominasi kuda betina.
Ada dugaan bahkan tuduhan jika selama ini pengiriman kuda ke luar Sumba memang demikian.
Sungguh sebuah ironi, di tengah populasi kuda Sumba yang terjun bebas, Sandelwood betina beramai-ramai hijrah ke Negeri Celebes.
Kecurigaan adanya pengiriman ternak simbol khas Pulau Sumba yang melebihi kuota dalam setiap kali pengantapulauan kian menguat.
Bukan berburuk sangka, karena dari investigasi awak media ternyata ada 52 ekor kuda yang tersisa di dalam kintal karantina.
Belum diketahui apakah kuda-kuda ini tak jadi diangkut karena keberadaan awak media terendus.
Karena ternyata, dua truk pengangkut yang sudah memuat kuda tidak jadi keluar dari kintal Karantina malam itu.
Temuan ini menambah kuat dugaan terkait informasi adanya pengiriman kuda ke Jeneponto yang melebihi kuota.
Karena jatah kuota pengiriman kuda lewat Karantina Waikelo tahun 2025 sejumlah 300 ekor telah disudahi dengan pemberangkatan 104 ekor Sandelwood.

Dalam suasana hujan wartawan terpaksa kenakan mantek kresek saat naik ke kapal untuk menghitung jumlah kuda. ( Foto Menara Sumba )
Dari dokumen Sertifikat Kesehatan Hewan (SKH) yang dikeluarkan otoritas Karantina ada tiga perusahaan pengirim ternak yang punya jatah atas kuda-kuda tersebut.
Pertama, CV Putra Aero beralamat Desa Rada Mata, Kecamatan Kota Tambolaka, SBD mengirim 22 ekor yang terdiri dari 11 jantan dan 11 betina.
Kedua, CV Hijrah yang beralamat Desa Rada Mata, Kecamatan Kota Tambolaka, SBD yang juga mengirim 22 ekor yang terdiri dari 8 jantan dan 14 betina.
Dengan demikian, dari Kabupaten Sumba Barat Daya terdapat 35 ekor kuda betina yang diduga di dalamnya terdapat banyak induk produktif, dan hanya 19 ekor kuda jantan.
Sedangkan CV Abdi Jaya Pratama beralamat Jalan Pattimura, Kelurahan Maliti, Kecamatan Kota Waikabubak, Sumba Barat mengirim 60 ekor yang terdiri dari 17 jantan dan 43 betina.
Dari jumlah 68 ekor kuda betina ini maka tidaklah keliru jika kecurigaan publik tentang kongkalikong pengiriman kuda betina produktif yang mengangkangi peraturan benar adanya.
Misteri 52 Ekor Kuda dan Dua Truk Ngumpet dalam Karantina
Investigasi hari itu menyisakan tanda tanya besar di kepala para jurnalis yang telah berjibaku melawan hujan, basah dan dingin, juga perut yang seharian keroncongan menahan lapar.
Pasalnya, masih tersisa 52 ekor kuda dalam kintal Karantina yang ditengarai gagal kirim lantaran terendus awak media.
Sinyalemen ini diperkuat dengan keberadaan dua truk dalam kintal Karantina yang terlihat sudah bermuatan kuda.
Beruntung sopir dua truk itu tidak nekad melaju ke dermaga untuk mengantarkan kuda tersebut, karena jika itu terjadi sudah pasti publik akan geger oleh breaking news awak media yang sudah stand by di pelabuhan.
Beredar pula kabar miring jika untuk seekor kuda di luar kuota, ada kutipan fee sebesar 1 juta.
Namun tentunya kecurigaan ini harus dibuktikan, meski jelas dalam rekaman awak media terjadi ketimpangan pada Senin (22/12/2025) itu.
Sampai kini masih jadi teka-teki tentang dua pickup dan sebuah truk bermuatan kuda yang bertolak bukan dari dalam kintal Karantina.
Demikian pula misteri dua truk yang kemudian memilih tidak keluar lagi dari dalam kintal Karantina, padahal sudah bermuatan kuda.
Apalagi masih tersisa 52 ekor kuda dalam area Karantina Satuan Pelayanan Waikelo yang dikelilingi tembok menjulang itu.
Meski diduga bahwa inilah penyebab Sandelwood simbol kebanggaan Tanah Marapu kian menyusut hampir punah, namun apa daya jika patgulipat itu justru melibatkan jaringan rapih dari berbagai unsur, termasuk oknum yang mengaku sebagai wartawan.
Tapi setidaknya bongkar-bangkir sejumlah jurnalis yang masih punya nurani pengabdian di penghujung tahun ini, membuka mata bahwa dugaan pengiriman Sandelwood betina produktif dan jumlah melampaui kuota bukan isapan jempol. ( Selesai )




































