TAMBOLAKA, MENARASUMBA.COM – Ketua DPRD Kabupaten Sumba Barat Daya, Rudolf Radu Holo mengkritisi pelaksanaan pesta adat yang telah menyimpang dari hakekat aslinya.
Pernyataan bernada miris diungkapkan Rudolf Radu Holo saat dikonfirmasi sejumlah awak media, Senin (08/12/2025).
Ia menyebut perilaku menyimpang yang telah mencederai pelaksanaan ritual adat di Sumba Barat Daya jadi salah satu atensi untuk penyusunan Ranperda yang diinisiasi lembaga legislatif.
“Kita harus kembalikan adat kepada pelaksanaan tradisi asli yang diwariskan nenek moyang,” tegasnya.
Salah satu soal yang urgensi di Sumba Barat Daya adalah pemurnian adat agar tidak kian menyimpang dan kemudian jadi warisan turun temurun.
Pembiaran terhadap penyimpangan dalam pelaksanaan pesta adat yang terus berlangsung, kata dia, telah merusak tatanan budaya Sumba.
“Contoh paling nyata, tradisi kita telah dirusak dengan konvoi hingar bingar sepeda motor bunyi bising, termasuk letusan bunyi kembang api,” sebutnya.
Malah yang paling konyol, ujar politisi PDIP ini, keberadaan ternak telah digantikan dengan sepeda motor.
“Sekarang sudah ada yang dorong sepeda motor ke tempat pesta, bukan lagi tarik kerbau atau hewan lain,” jelas Rudolf dengan nada sesal.
Modifikasi yang sudah sangat merusak pelaksanaan hajatan adat ini harus segera disikapi sebelum terlanjur dianggap wajar, jadi tradisi lazim dan kian massif di tengah masyarakat.
Ia mencontohkan pelaksanaan Saiso yang juga salah satu ritual sakral, kini tak lagi punya makna.
“Saiso itu kan tidak boleh ribut-ribut, harus hening dan benar-benar pelantun syair adat serta bunyi gong yang kedengaran,” timpalnya.
Pihaknya menegaskan, sudah harus ada upaya sigap dan segera untuk menyelamatkan tradisi warisan nenek moyang ini agar tidak babak belur dipoles dan dimodifikasi dengan hal-hal destruktif.
“Saya ajak semua warga Loda Wee Maringi Pada Wee Malala untuk kembali kepada adat sesungguhnya sesuai yang digariskan nenek moyang kita,” tandasnya. ( JIP/MS )























