TAMBOLAKA, MENARASUMBA.COM – Perilaku pesta berlebihan yang marak dan dijadikan kegiatan ritual adat tahunan mendapatkan kritik tajam.
Dampak negatif akibat pemborosan dalam hajatan pesta adat telah mencemaskan kaum muda di Sumba Barat Daya.

Salah satu tokoh muda SBD, Agustinus Tamo Mbapa, S.Sos, M.Si bersuara lantang mengkritisi perilaku boros yang tanpa sadar hidup subur dalam pelaksanaan pesta adat, maupun ritual pemakaman jenazah di Sumba.
Hal itu disampaikan politisi Partai Demokrat ini di sela kegiatan diskusi publik terkait pesta adat yang disenggalarakan, Jumat (10/10/2025).
Diskusi bertajuk Pesta Adat-Budaya dan Ekonomi Rakyat di Sumba : Tradisi, Kebutuhan dan Realitas Kemiskinan ini diselenggarakan di Sekretariat DPC Partai Demokrat Kabupaten SBD.
Diskusi ini menghadirkan tiga narasumber yakni P. Donny Kleden, CSsR, Pendeta Yoshua B. Pasa, S.Th, dan pengamat budaya, Yonathan Bero Aguate.
Menurut Agustinus, kemiskinan yang tinggi disebabkan karena perilaku pesta yang berlebihan.
“Semua itu dilatarbelakangi gengsi dan prestise semata tanpa memperhitungkan realita ekonomi dan keberadaan hidup sehari-hari,” timpalnya.
Kondisi masyarakat yang telah terjerumus dalam perilaku boros di bawah pengaruh pesta adat harus dicarikan solusinya.Ia menegaskan, butuh campur tangan pemerintah untuk menentukan formulasi tepat untuk menyelamatkan keadaan ini.
“Perlu segera dibentuk lembaga adat yang difasilitasi Pemda untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat SBD,” imbaunya.
Lembaga adat ini akan menjadi forum pencerahan untuk menggugah kesadaran masyarakat agar tidak lagi terjerumus dalam pola hidup boros.
Gengsi dan prestise, kata dia, harus ditempatkan pada koridor yang tepat sehingga lebih bermakna positif.
Pertaruhan harga diri mestinya bermuara terhadap kemajuan ekonomi termasuk menyuplai pembangunan sumber daya manusia yang mumpuni dan bermartabat.
“Setiap keluarga harus mulai prioritaskan pendidikan anak dan ekonomi keluarga,” pungkasnya.( JIP/MS )
































