TAMBOLAKA, MENARASUMBA.COM -Budaya Sumba telah mengalami pergeseran nilai, dimana salah satu penyebab utamanya adalah pertaruhan gengsi.
Dalam praktiknya, terjadi pengingkaran terhadap nilai asli budaya yang diwariskan oleh nenek moyang.

Demikian inti pemaparan mantan Bupati Sumba Tengah, Drs. Umbu Sappi Pateduk dalam Simposium Budaya Sumba, Selasa (23/09/2025) di Aula Hotel Sinar Tambolaka, Sumba Barat Daya.
Kegiatan yang dimotori Wahana Visi Indonesia bersama Yayasan Donders tersebut berlangsung selama tiga hari (23-25 September 2025).
Pada kesempatan itu bupati dua periode di kabupaten yang dijuluki Tana Waikanena Loku Waikalala ini didaulat membawakan topik Tiga Gerakan Moral dalam Perubahan Budaya, Pengalaman Penetapan Peraturan Daerah di Sumba Tengah.
“Termasuk kakek saya, orang tua saya sudah dirusak otak dan mentalnya, bahwa gengsi itulah yang menjadi ukuran manusia,” akunya.
Sosok low profil yang akrab dipanggil Umbu Bintang ini mengatakan, dalam praktik keseharian ada sejumlah istilah budaya sebagai kiasan gengsi, salah satunya ka’du rowa rara atau kapauta.
Kapauta (destar) atau ikat kepala yang tidak pernah dilepaskan oleh seorang pria Sumba ini kemudian dimanifestasikan sebagai lambang tegaknya gengsi.
“Di sana ada pergeseran tentang makna, tentang nilai, dimana terjadi pergeseran dalam memberikan makna pada budaya, dan itu yang terjadi,” bebernya.
Inilah yang kemudian dijadikan permenungan perjalanan hidup tatkala diberi mandat oleh rakyat Sumba Tengah untuk menjadi bupati.

Dirinya harus jujur atas apa yang telah dibuat oleh para pendahulu, termasuk ayahnya sendiri.
“Orang pertama yang bayar belis (mahar) lebih dari seratus ekor hewan adalah kakek dan ayah saya,” tuturnya.
Umbu Bintang mengisahkan, dirinya adalah saksi hidup ketika sang ayah yang kala itu menjabat Bupati Sumba Barat hendak mempersunting istri ketiga.
“Saya adalah saksi hidup dimana Lapangan Manda Elu yang berada persis di depan rumah jabatan bupati penuh sesak dengan hewan,” kenangnya.
Untuk menggiring ratusan ekor hewan mahar sebagai wujud pertaruhan gengsi ini menuju rumah wanita yang hendak dilamar, butuh waktu dua hari dua malam.
Gengsi dipertaruhkan, karena yang dilamar adalah anak Raja Lamboya, dan yang melamar adalah Bupati Sumba Barat yang adalah anak Raja Anakalang
“Di situlah awal pengingkaran, menjadi awal distorsi tentang nilai belis,” tuturnya.
Maka ketika diberi kepercayaan untuk memimpin kabupaten Sumba Tengah dirinya harus jujur mengakui kekeliruan itu dan minta ampun pada Tuhan.
Koreksi total itu kemudian diwujudkan dengan lahirnya peraturan daerah yang membatasi jumlah hewan yang disembelih pada hajatan pesta atau pemakaman jenazah.
Termasuk pula pembatasan hari berkabung, serta penjadwalan hajatan pesta adat yang tidak bisa lagi digelar sesuka hati.
Ketua DPC PDIP Kabupaten SBD ini menegaskan, dirinya harus berani mengambil sikap demi kebaikan masyarakat Sumba Tengah.
“Saya harus berani melakukan koreksi bahwa itu salah dan harus membuat legasi bagi rakyat dan anak cucu,” tandasnya. ( JIP/MS )




























