JAKARTA, MENARASUMBA.COM – Mantan Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) periode 1993–1998, Mayjen TNI Purn. Herman Musakabe, menyampaikan keprihatinan mendalam atas penembakan yang menewaskan tiga aparatur sipil negara (ASN) Dinas Pertanian di Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.
Ketiga korban, masing-masing berinisial AR (49), AAM (35), dan Willi Boeik (24), diberitakan menjadi korban penembakan pada Rabu, 9 September 2026, setelah menjalankan tugas meninjau program cetak sawah.
Dalam surat terbuka yang ditujukan kepada Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo di Jakarta, Herman Musakabe menyampaikan duka cita sekaligus mendesak aparat penegak hukum mengungkap kasus tersebut secara cepat dan tuntas.
Herman yang juga merupakan anggota Legiun Veteran RI dan sesepuh NTT menegaskan, keprihatinannya bukan hanya karena para korban disebut berasal dari NTT.
Jenderal purnawirawan bintang dua ini menegaskan, hilangnya satu nyawa manusia merupakan tragedi kemanusiaan, terlebih apabila korban sedang menjalankan tugas negara dan tidak terlibat dalam persoalan yang melatarbelakangi kekerasan.
“Hilangnya satu nyawa manusia adalah tragedi kemanusiaan di mana pun peristiwa itu terjadi,” demikian inti pernyataan Herman dalam surat terbukanya.
Dalam surat tersebut, Herman dengan tegas mengecam tindakan pelaku yang menyebabkan tiga ASN meninggal dunia.
Ia menandaskan, apa pun latar belakang konflik, kepentingan maupun persoalan yang melatarbelakangi tindakan kekerasan, tidak ada alasan yang dapat membenarkan penghilangan nyawa secara sewenang-wenang.
Dirinya juga mengingatkan agar tindakan oknum pelaku tidak digeneralisasi sebagai kesalahan suatu suku, kelompok maupun masyarakat tertentu.
Menurutnya, persoalan tersebut harus dilihat sebagai tindakan individu yang harus dipertanggungjawabkan berdasarkan hukum dan bukti yang sah.
Pihaknya meminta Kapolri beserta jajaran mengungkap kasus tersebut secara cepat, tuntas, profesional dan transparan.
Ia juga menekankan pentingnya penyelidikan dan penyidikan yang berbasis bukti sehingga pihak-pihak yang terlibat dapat diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Selain mengungkap pelaku, Herman meminta aparat mengurai secara terang motif dan rangkaian kejadian penembakan tersebut.
Kemungkinan adanya pihak lain yang terlibat juga, menurutnya, perlu ditelusuri berdasarkan hasil penyelidikan dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.
Keadilan Jangan Dibangun di Atas Kemarahan
Lebih lanjut ia menegaskan, proses penegakan hukum harus dilakukan dengan kepala dingin dan berdasarkan kebenaran.
“Keadilan tidak boleh dibangun di atas kemarahan, tetapi harus ditegakkan berdasarkan kebenaran dan hukum,” tegasnya.
Ia berharap siapa pun yang nantinya terbukti bersalah diberikan sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Menurut Herman, penegakan hukum yang tegas, adil dan profesional merupakan salah satu wujud kehadiran negara dalam melindungi masyarakat.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga persatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Masyarakat Diminta Tidak Terprovokasi
Selain mendesak aparat bertindak, Herman mengimbau seluruh masyarakat agar menahan diri dan tidak mengambil tindakan sendiri di luar ketentuan hukum.
Ia mengingatkan, sebuah tragedi jangan sampai melahirkan tragedi baru.
Masyarakat juga diminta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi, prasangka maupun provokasi yang berpotensi memperlebar persoalan dan merusak persaudaraan.
“Yang diperlukan adalah negara hadir, hukum bekerja, masyarakat terlindungi, dan setiap warga negara dapat hidup serta menjalankan tugasnya dengan rasa aman,” pesan Herman dalam surat tersebut. ( TAPI/MS )






















